![]() |
Tingkat sepi paling mengerikan, adalah terdiam di tengah kerumunan. Setumpuk rindu terpendam, diam menjadi bahasa, doa jadi satu-satunya upaya.
Sepi tak juga menghibur hati, meski diri hanya ingin sendiri. Kicau burung semakin kacau, angin mendesah semakin resah, gusar tak tahu apa hendak dibuat.
Pada pada terik yang melirik tak menarik, tubuh ini terbang, melayang meninggalkan tulang belulang. Jiwa yang semakin tak berdaya mencari tempat singgah nya.
Keresahannya tak juga padam, justru semakin mendalam. Keputusannya berhenti sejenak, menyiangi rumput tanya, menziarahi pemakaman masa lalu. Adakah yang dapat menjawab, tentang soal yang kini ku bawa. Sebab bising kota tak juga puaskan tanya-tanya.
Aku berhenti sejenak, merenung pada jejak yang tak berjejak.
.
(SAD : Pelukis Senja)
