Minggu, 19 November 2017

Ammi

  Gadis itu duduk di bangku taman. Bangku yang terbuat dari besi itu sudah tampak lusuh karena warnanya yang mulai pudar. Kakinya disilangkan, sedangkan kedua tanganya memegang sesuatu yang menjadi favorit dan menjadi hobinya. Membaca novel. Tanganya memegang novel best seller yang baru saja dibelinya. Lembar demi lembar setiap paragraf tak luput dari pandangan matanya. Telunjuknya bergerak mengikuti kalimat yang dibacanya. Rambutnya dibiarkan terurai melambai dibelai angin. Sesekali tanganya membenarkan posisi kacamata yang melorot bertengger di hidungnya.
            Wajahnya nampak sangat serius. Ya, memang seperti itulah dia kalau sedang asik membaca novel. Tak ada yang bisa mengganggunya. Hanya sesekali senyumnya tersungging menyiratkan tentang apa yang sedang dibaca.
            Aku mengamatinya dari bangku yang kebetulan berada berseberangan dengan bangku tempat ia duduk. Tanganku masih asik dengan buku gambar dan pensil. Goresan-goresan pensilku telah berhasil memindahkan sosoknya ke atas kertas buku gambarku. Tak mau kalah, aku pun tersenyum simpul pada sketsa di buku gambarku. Aku tidak terlalu hobi membaca seperti Ammi. Ya, gadis yang tadi kuceritakan bernama Ammi. Aku lebih suka mendengarkan cerita tentang apa yang dibacanya. Sebagai imbalanya, aku memberikan hasil visualku melalui goresan pensil di atas buku gambarku. Dan itulah yang membuat kami selalu bisa bertemu, meskipun dengan hobi yang berbeda.
            “Gambar yang bagus” entah sejak kapan Ammi sudah duduk di sampingku. Mengamati sketsa dirinya yang hampir kuselesaikan. Aku yang terlalu asik seringkali tidak menyadari kehadiranya. Ya, melukisnya, membuat sketsa di atas buku gambarku, itu adalah sesuatu yang membuatku semakin hidup. Ammi selalu hidup dalam setiap karyaku.
            Sejenak ku perhatikan ekspresi muka gadis di sampingku ini. Dia tersenyum, manis sekali. “Sudah selesai” aku tersenyum sendiri, ah bukan–lebih tepatnya aku tersenyum pada buku gambarku dan Ammi di sampingku. “Jadi bagaimana cerita dari novel barumu itu Am?” tanyaku memulai obrolan.
            Ammi bercerita panjang lebar tentang novel yang baru saja dibacanya. Meskipun terkadang itu bukanlah sesuatu hal yang menarik perhatianku, karena aku lebih tertarik melihatnya, saat dia sedang bercerita. Ammi dengan buku-buku, novel dan hobinya membaca. Aku dengan buku gambar, pensil dan sketsa Ammi. Kedua hal itu saling bertukar ketika kami akan berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi. Dari buku, novel dan juga sketsa. Seringkali kutuliskan pesan rahasia yang kuselipkan di bukunya, tentunya tanpa sepengetahuanya.

            “Ammi, buka dan baca halaman 60 dan ku harap kamu menyukainya”

Taman Lavia


            Panji melangkah perlahan memasuki kerumunan itu. Taman Lavia, tempat itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh penjuru kota di negeri ini. Pesta malam purnama sedang belangsung. Sesuai dengan tradisi yang berlaku di negeri ini, semua yang datang di pesta purnama tidak boleh menampakan identitasnya. Sebagai salah satu aturanya yaitu mereka harus menggunakan topeng. Topeng dengan bulu warna-warni menghiasi di bagian atas mata topeng. Begitu juga dengan Panji, dia tidak lupa mengenakan topeng hitam dengan bulu warna biru menghiasi bagian atas matanya. Tuxedo hitam yang ia kenakan membuat penampilanya semakin elegan. Namun tidak dengan ekspresi wajahnya yang kini nampak gelisah. Ada yang sedang dicari.
            Shit, ramai sekali. Kalau begini situasinya, bagaimana aku bisa menemukanya, rutuk Panji dalam hati. Panji terus berjalan menembus kerumunan orang yang begitu riuh. Meski gelisah, matanya tetap fokus menyapu seluruh wajah yang dilihatnya, berharap segera menemukan apa yang dicarinya sejak tadi. Tiba-tiba langkahnya semakin pelan bahkan seketika berhenti. Kini panji tepat berada di tengah kerumunan di Taman Lavia saat matanya menangkap sesosok yang membuatnya terpaku. Matanya tak henti menatap, tegak lurus tepat tertuju pada air mancur di tengah Taman Lavia.
            Itu dia, batin Panji sedikit lega. Tersungging senyuman miring dari bibirnya. Kini dia kembali melangkah mendekati air mancur. Namun ternyata bukan air mancur yang ditujunya, melainkan sosok wanita yang begitu anggun berdiri di dekat air mancur.
            “Lavia” ucapanya begitu lirh memanggil wanita yang kini menoleh padanya.
            Seketika hening, wanita yang dipanggil Lavia itu tak menjawab. Topeng merah hati dengan bulu-bulu putih mencoba menutupi siapa sosok di balik topeng itu. Namun tidak bagi Panji yang begitu mengenali sosok Lavia bahkan di balik topeng sekalipun. Matanya kini menatap begitu tegas hingga mata dua sejoli itu kini bertemu dalam jarak yang hanya sepersekian centimeter saja. Senyuman pun tak dapat di bendung lagi, mengalir diantara keduanya. Entah seiapa yang memulai, kini dua sejoli itu telah menyatu dalam pelukan kerinduan yang begitu hangat. Sangat erat mereka berpelukan, mengabaikan pandangan dari keramaian orang yang ada di taman itu.
            Teng ... teng ... teng .... suara lonceng menara yang ada di taman telah berbunyi. Ini adalah waktu yang dinanti-nanti oleh semua orang yang ada di Taman Lavia. Ya, lonceng itu selalu berbunyi secara otomatis saat malam purnama. Entah apa yang membuat lonceng itu berbunyi secara otomatis, yang pasti, bunyi lonceng itu pertanda pesta akan segera usai dan akan ditutup dengan pesta dansa.
            Seketika semua orang yang ada di Taman Lavia sudah berpasang-pasangan dan mulai berdansa. Begitu juga dengan Panji dan Lavia yang kini berdiri berhadapan. Perlahan tangan Lavia melingkar di atas bahu Panji, dengan otomatis tangan Panji memeluk pinggang Lavia. Dalam hitungan detik dua sejoli ini juga mulai berdansa mengikuti alunan musik. Kedua pasang mata itu saling bertatapan mesra di balik topeng yang berbulu yang dikenakan keduanya. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Malam ini menjadi milik mereka berdua meskipun pada kenyataanya ribuan orang asing memenuhi pelataran Taman Lavia.
            Teng... teng... teng... suara lonceng kembali berbunyi ketika jarum jam pada menara menunjukan tepat pukul dua belas malam. Seketika itu alunan musik terhenti, begitu juga dengan pesta dansa yang dari tadi berlangsung.
            Nampaknya suara lonceng itu juga menghentikan dan juga melepaskan pelukan Panji dan Lavia. Sial, kenapa begitu cepat! Panji kembali mengutuk dalam hati. Matanya kini menatap tajam pada jam tangan yang ia kenakan.

            Seulas senyuman yang dipaksakan tersungging dari bibir Panji. “Aku harus pergi Lavia, kita akan bertemu lagi saat purnama tiba” Panji kembali tersenyum meyakinkan pada Lavia bahwa dirinya akan kembali menemuinya saat purnama tiba. Saat pesta dansa bulan purnama di Taman Lavia.

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...