Jumat, 25 Agustus 2017

Violinist


           
Rara mendengus kesal. Wajah cerianya hilang berganti dengan mimik muka muram. Senyumnya memudar dihapus bibir tipis yang kini kaku kelu tanpa ekspresi. Sesekali lidahnya mendecak. Hatinya gelisah tak karuan. Pikiranya berkecamuk penuh dengan emosi yang sedang meluap. Bagaimana tidak, sudah satu jam dia menunggu di Taman Kota namun yang ditunggu tak juga datang. Sesekali matanya menatap pada jam tanganya dan matanya menyapu mencari sosok yang sedang ditunggunya.
            Dimana dia ? Kenapa belum datang juga? Apakah dia lupa dengan janjinya sendiri? Dasar laki – laki, semua sama saja. Tak henti – hentinya Rara memaki dalam hati. Diambilnya smartphone yang terselip di saku cardigan-nya. Setelah menekan beberapa nomor Rara menempelkan alat itu di telinganya.
            Ah di luar jangkauan! Kamu kemana? Kenapa di saat – saat seperti ini kamu beraninya tidak menepati janjimu. Dilihatnya lagi smartphone yang masih ia pegang. Dengan cepat jarinya menari di atas tombol – tombol smartphonenya itu. Nampaknya Rara mengirimkan pesan singkat kepada sosok di seberang sana. Sosok yang ditunggunya sejak satu jam yang lalu. 
            Rara mendongakan kepalanya ke langit. Matanya terpejam. Dihembuskanya nafas pelan dan panjang. Mencoba melepaskan semua kekesalanya. Hingga tanpa ia sadari bulir – bulir mengalir dari matanya, bebas tanpa beban membasashi pipi yang tadinya sempat memerah. Memadamkan pipi merah itu. Kini bukan bibirnya yang berkata, namun matanya berbicara ketika apa yang tak mampu diungkapkanya harus rela terwakilkan oleh mata. Rara menangis dalam kesendirianya itu.
            Perlahan dibuka mata yang mengeluarkan bulir kepedihan itu. Matanya kini sembab karena menangis. Diusapnya pipi yang basah itu dengan tangan halusnya. Masih setengah sadar Rara membereskan violin ke dalam tasnya.
            Cukup Rara. Penantianmu cukup sampai di sini. Orang yang mengaku dirinya seniman jalanan itu telah mengkhianati janjinya. Meski baru pertama kalinya ia ingkar janji. Namun tampaknya Rara begitu kesal dan kecewa. Ya, karena hari ini hari yang sangat special baginya dan juga orang yang disebutnya seniman itu.
            Dengan berat Rara melangkahkan kakinya meninggalkan Taman Kota. Jejak air matanya masih basah membekas di tanah Taman Kota. Menyimpan rasa pedih dan juga kecewa. Ditinggalkanya bersama sepinya taman di sore itu. Dengan janji yang perlahan mulai  menguap bersama langkah kaki menjauh dari Taman Kota.
            ***
            Rara duduk di bangku besi tua dengan violin di tanganya. Tak lupa juga bow yang siap menggesek memainkan nada – nada merdu dari violin kesayanganya itu. Taman Kota nampak lebih indah meskipun matahari hampir pulang menuju tempatnya bersemayam. Bunga – bunga masih setia mekar turut menemani gadis penggemar violin ini, seperti menantikan sang gadis kembali memainkan violinya itu.
            Kemeja flannel kotak – kotak yang dikenakanya melambai ditiup angin yang sengaja tak dikancingkan. T-shirt hitam turut menambahkan kesan tomboy yang terlihat mencolok dari balik kemejanya itu. Rambutnya dibiarkan terurai, menari dibuai angin. Matanya berbinar dengan senyum simpul yang sesekali turut timbul di wajahnya.
            “Mau lagu apa” diletakkanya violin di pundaknya dengan gaya khas violinist kelas dunia.
            “Alunan lagu sesuai kata hatimu” tanganya masih asik dengan pensil yang menggores sketchbook di tanganya. Hanya sedikit senyuman yang diberikan pada sang violinist itu, sedangkan matanya begitu fokus dengan yang dikerjakan tanganya.
            “Dia” perlahan bow dan senar violin itu beradu. Gesekan perlahan dari tangan terampil Rara mengalunkan intro dari lagu Dia by Anji. Matanya terpejam menikmati setiap alunan nada dari violin di pundaknya. Sesekali kepala dan badanya mengayun mengikuti alunan nada. Senyumnya tiba – tiba timbul pada pertengahan lagu menjelang memasuki reff. begitu juga dengan rambutnya yang terurai turut menari seiring alunan lagu dari sang violinist.
            Di sisi lain, pensil di tanganya menari di atas kertas. Entah mengikuti alunan lagu atau hanya menggoreskan garis dan titik tanpa makna. Matanya sesekali memandang pada gadis itu. Sekejap kemudian pandanganya kembali pada sketchbook di tanganya. Ada aura kesungguhan yang timbul pada diri laki - laki ini. Laki – laki yang dari tadi hanya fokus pada pensil dan sketchbook di tanganya. Yang ada di pikiranya saat ini tak ada yang bisa menebak, namun yang pasti sang gadis violinist itu telah berpindah di atas sketchbook berukuran A4 itu. Sketsa gadis violinist telah berhasil di selesaikanya
Rara membuka matanya ketika tepuk – tangan terdengar setelah lagu dari violinya usai. Senyum manis itu kembali tersungging menghiasi wajah ovalnya. Tanganya yang masih memegang bow sesekali menyibakan rambutnya yang tertiup angin hampir menutupi wajahnya. Dihembuskanya nafas pelan dan ringan mengakhiri konser kecilnya itu.
“Semakin hari kemampuanmu semakin menunjukan pemain violin berkelas” langkahnya mengayun mendekati Rara. “Rara sang violinist” ucapnya dengan santai dn senyum membanggakan.
“Lalu, bagaimana dengan sketsamu? Pelukis jalanan.” Rara menimpali pujianya. Matanya turut mempertanyakan apa yang diucapkan bibirnya itu. Pancaran mata dengan penuh tanya dan harapan.
“Ini, sang gadis violinist telah berpindah di sketcbooku” menjentikan jarinya seraya tanganya diurlurkan menunjukan hasil dari gambar sketsanya.
Tama. Sosok laki – laki ini dikenalnya dua bulan lalu pada pergelaran seni di kampusnya. Di mana mahasiswa yang memiliki bakat seni berkumpul dan mempertunjukan bakatnya di pelataran kampus. Laki – laki dengan tubuh tegap ini memamerkan hasil karya lukisanya itu, kebanyakan masih dalam bentuk sketsa yang cukup sempurna dengan arsiran yang halus sehingga membuat sketsanya nampak begitu hidup. Pelataran kampus waktu itu mempertemukan keduanya denga jarak yang berdampingan. Dengan diam – diam Tama membuat sketsa dari gadis penggemar violin itu. Diberikanya sketsa itu sebagai tanda awal perkenalan mereka, hingga hubungan baik pun terjalin hingga saat ini.
“Violinist amatir Tam” tawa kecilnya meringis mencoba merendah. Namuntidak dengan pipinya yang bersmu tak dapat menahan rasa malu yang bercampur senang di hatinya. “Seketsa yang bagus, hidup dan tampak nyata” puji Rara pada sketsa yang sekarang telah berada di tanganya.
“Dua seniman amatir yang saling memuji dan merendah” kata Tama tanpa gairah. “Bagaimana mau jadi professional kalau selalu merendah begini, nyaris tak bisa mempromosikan dan membanggakan diri” kali ini tama begitu serius dengan perkataanya.
“Hey … kenapa jadi serius dan baper gini. Tak biasanya kamu seperti ini Tama” mimik mukanya berubah penasaran. Matanya membulat dan pandanganya dicondongkan serius ke arah laki – laki yang juga pelukis itu.
“Iya… seniman jalanan yang mungkin akan selalu menjadi seniman jalanan” katanya ketus. Sekarang ia membiarkan tubuhnya terhempas dan bersandar pada bangku besi tua persis berdampingan dengan Rara.
“Ingat Tama. Seniman itu mencurahkan isi hati ke dalam suatu karya. Professional atau tidaknya seorang seniman bukan kebanggaan belaka. Tapi kejujuran dalam berkarya itu yang utama. Seni itu jujur, bukan pencitraan. Bukan ingin dibanggakan dan dilihat hebat serta mendapat pujian. Karya seorang seniman semata – mata dari proses yang dilaluinya Tama, bukankah kita pernah belajar itu semua?” kini Rara pun nampak begitu serius menganggapi kata – kata Tama. Wajahnya kini berapi – api, tapi bukan marah melainkan semangat yang begitu jelas terpancar dari sorotan matanya.
Tama hanya terdiam. Ia merenungkan apa yang dikatakan gadis penggemar violin itu. Yang dikatakan Rara benar. Seni itu tentang kejujuran, bukan pencitraan dan mengejar ketenaran belaka. Profesionalisme seorang seniman bukan dilihat dari ketenaranya. Tapi dari penghargaan terhadap proses yang di laluinya. Dan hasil tidak pernah menghianati proses itu.
 “Maaf Rara, aku hanya ….” kata – katanya terpotong dengan dengusan nafas berat. “Mungkin aku hanya takut kehilangan setiap proses yang telah kita lalui bersama. Saling bertukar karya dan saling memberi semangat” lirih suaranya melanjutkan kata – kata yang sempat terpotong.
Rara hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Tama. Sepertinya Rara memaklumi apa yang kini ada dalam pikiran laki – laki itu. Rasa takut yang sama dirasasakan olehnya. Rasa takut kehilangan teman berbagi. Kehilangan teman untuk mendampingi perjalanan prosesnya berkaryanya itu.
“Tama...” Rara menoleh kea rah laki – laki yang sekarang duduk terpaku di sampingnya. “Apakah kamu mau berjanji satu hal padaku?” tanya Rara melanjutkan.
“Apa itu?” Tama kembali bertanya.
“Kita akan selalu bertemu dan bertukar karya. Kamu dengan lukisan atau sketsamu sedagkan aku dengan lagu baru dari violinku” jawab Rara tanpa basa – basi. Mukanya begitu serius dan penuh harap.
Tama memandang gadis itu. Mukanya datar dengan ekspresi tak begitu paham. Berpikir sejenak mencerna apa yang dikatakan Rara. “Begitu ya, baiklah. Aku setuju” jawab Tama. Senyumnya tersungging ramah dan renyah.
“Janji ya, empat hari lagi kita bertemu di sini. Aku dengan lagu baru ku dan kamu dengan sketsamu” Rara mengulurkan tanganya dan diacungkan jari kelingkingnya sebagai ikatan janji mereka.
“Janji” ucap Tama seraya mengeratkan kelingkingnya pada kelingking Rara. Dan senyum pun mengembang di antara keduanya. Ada janji yang tengah terjalin di antara violinist dan pelukis itu. Janji untuk saling bertemu dan berbagi serta bertukar karya di Taman Kota. Janji yang disaksikan oleh bunga – bunga di taman yang kini mulai menguncup dan langit senja yang perlahan mulai menunjukan warna gelapnya.
***
“Rara, kamu di mana. Maaf aku terlambat datang. Aku sungguh lupa. Hari ini ada pameran lukisan di pasar seni. Aku lupa memberitahumu.”
#Tama.
 Dilihatnya pesan singkat dari notifikasi smartphone yang terselip di saku cardigan-nya. Hanya sekejap Rara menatap pesan singkat dari Tama kemudian memasukkanya kembali ke dalam saku tanpa membalasnya.

Kekecewaan masih jelas menyayat hatinya yang lembut itu. Wajahnya nampak lesu dan tak bergairah. Matanya masih saja sendu, sembab karena tangis beberapa saat yang lalu. Kini bis kota  membawanya meninggalkan Taman kota dengan janji yang hancur tiada arti. Rara tak ingin mengingatnya lagi, mencoba memejamkan mata di tengah sesaknya bis kota. Hanya violin dalam tasnya yang kini berada dalam pelukkanya. Sang violinist dan Janji pelukis yang sedang dilupakanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...