Dimana dia ? Kenapa belum datang
juga? Apakah dia lupa dengan janjinya sendiri? Dasar laki – laki, semua sama
saja. Tak henti – hentinya Rara memaki dalam hati. Diambilnya smartphone yang
terselip di saku cardigan-nya.
Setelah menekan beberapa nomor Rara menempelkan alat itu di telinganya.
Ah di luar jangkauan! Kamu kemana?
Kenapa di saat – saat seperti ini kamu beraninya tidak menepati janjimu.
Dilihatnya lagi smartphone yang masih ia pegang. Dengan cepat jarinya menari di
atas tombol – tombol smartphonenya itu. Nampaknya Rara mengirimkan pesan
singkat kepada sosok di seberang sana. Sosok yang ditunggunya sejak satu jam
yang lalu.
Rara mendongakan kepalanya ke
langit. Matanya terpejam. Dihembuskanya nafas pelan dan panjang. Mencoba
melepaskan semua kekesalanya. Hingga tanpa ia sadari bulir – bulir mengalir
dari matanya, bebas tanpa beban membasashi pipi yang tadinya sempat memerah.
Memadamkan pipi merah itu. Kini bukan bibirnya yang berkata, namun matanya
berbicara ketika apa yang tak mampu diungkapkanya harus rela terwakilkan oleh mata.
Rara menangis dalam kesendirianya itu.
Perlahan dibuka mata yang
mengeluarkan bulir kepedihan itu. Matanya kini sembab karena menangis.
Diusapnya pipi yang basah itu dengan tangan halusnya. Masih setengah sadar Rara
membereskan violin ke dalam tasnya.
Cukup Rara. Penantianmu cukup sampai
di sini. Orang yang mengaku dirinya seniman jalanan itu telah mengkhianati
janjinya. Meski baru pertama kalinya ia ingkar janji. Namun tampaknya Rara
begitu kesal dan kecewa. Ya, karena hari ini hari yang sangat special baginya
dan juga orang yang disebutnya seniman itu.
Dengan berat Rara melangkahkan
kakinya meninggalkan Taman Kota. Jejak air matanya masih basah membekas di
tanah Taman Kota. Menyimpan rasa pedih dan juga kecewa. Ditinggalkanya bersama
sepinya taman di sore itu. Dengan janji yang perlahan mulai menguap bersama langkah kaki menjauh dari Taman
Kota.
***
Rara duduk di bangku besi tua dengan
violin di tanganya. Tak lupa juga bow
yang siap menggesek memainkan nada – nada merdu dari violin kesayanganya itu.
Taman Kota nampak lebih indah meskipun matahari hampir pulang menuju tempatnya
bersemayam. Bunga – bunga masih setia mekar turut menemani gadis penggemar
violin ini, seperti menantikan sang gadis kembali memainkan violinya itu.
Kemeja flannel kotak – kotak yang
dikenakanya melambai ditiup angin yang sengaja tak dikancingkan. T-shirt hitam
turut menambahkan kesan tomboy yang
terlihat mencolok dari balik kemejanya itu. Rambutnya dibiarkan terurai, menari
dibuai angin. Matanya berbinar dengan senyum simpul yang sesekali turut timbul
di wajahnya.
“Mau lagu apa” diletakkanya violin
di pundaknya dengan gaya khas violinist kelas dunia.
“Alunan lagu sesuai kata hatimu”
tanganya masih asik dengan pensil yang menggores sketchbook di tanganya. Hanya
sedikit senyuman yang diberikan pada sang violinist itu, sedangkan matanya
begitu fokus dengan yang dikerjakan tanganya.
“Dia” perlahan bow dan senar violin itu beradu. Gesekan perlahan dari tangan
terampil Rara mengalunkan intro dari lagu Dia
by Anji. Matanya terpejam menikmati setiap alunan nada dari violin di
pundaknya. Sesekali kepala dan badanya mengayun mengikuti alunan nada.
Senyumnya tiba – tiba timbul pada pertengahan lagu menjelang memasuki reff.
begitu juga dengan rambutnya yang terurai turut menari seiring alunan lagu dari
sang violinist.
Di sisi lain, pensil di tanganya
menari di atas kertas. Entah mengikuti alunan lagu atau hanya menggoreskan
garis dan titik tanpa makna. Matanya sesekali memandang pada gadis itu. Sekejap
kemudian pandanganya kembali pada sketchbook di tanganya. Ada aura kesungguhan
yang timbul pada diri laki - laki ini. Laki – laki yang dari tadi hanya fokus
pada pensil dan sketchbook di tanganya. Yang ada di pikiranya saat ini tak ada
yang bisa menebak, namun yang pasti sang gadis violinist itu telah berpindah di
atas sketchbook berukuran A4 itu. Sketsa gadis violinist telah berhasil di
selesaikanya
Rara membuka matanya ketika tepuk – tangan terdengar
setelah lagu dari violinya usai. Senyum manis itu kembali tersungging menghiasi
wajah ovalnya. Tanganya yang masih memegang bow
sesekali menyibakan rambutnya yang tertiup angin hampir menutupi wajahnya.
Dihembuskanya nafas pelan dan ringan mengakhiri konser kecilnya itu.
“Semakin hari kemampuanmu semakin menunjukan pemain
violin berkelas” langkahnya mengayun mendekati Rara. “Rara sang violinist”
ucapnya dengan santai dn senyum membanggakan.
“Lalu, bagaimana dengan sketsamu? Pelukis jalanan.”
Rara menimpali pujianya. Matanya turut mempertanyakan apa yang diucapkan
bibirnya itu. Pancaran mata dengan penuh tanya dan harapan.
“Ini, sang gadis violinist telah berpindah di
sketcbooku” menjentikan jarinya seraya tanganya diurlurkan menunjukan hasil
dari gambar sketsanya.
Tama. Sosok laki – laki ini dikenalnya dua bulan
lalu pada pergelaran seni di kampusnya. Di mana mahasiswa yang memiliki bakat
seni berkumpul dan mempertunjukan bakatnya di pelataran kampus. Laki – laki
dengan tubuh tegap ini memamerkan hasil karya lukisanya itu, kebanyakan masih dalam
bentuk sketsa yang cukup sempurna dengan arsiran yang halus sehingga membuat
sketsanya nampak begitu hidup. Pelataran kampus waktu itu mempertemukan
keduanya denga jarak yang berdampingan. Dengan diam – diam Tama membuat sketsa
dari gadis penggemar violin itu. Diberikanya sketsa itu sebagai tanda awal
perkenalan mereka, hingga hubungan baik pun terjalin hingga saat ini.
“Violinist amatir Tam” tawa kecilnya meringis
mencoba merendah. Namuntidak dengan pipinya yang bersmu tak dapat menahan rasa
malu yang bercampur senang di hatinya. “Seketsa yang bagus, hidup dan tampak
nyata” puji Rara pada sketsa yang sekarang telah berada di tanganya.
“Dua seniman amatir yang saling memuji dan merendah”
kata Tama tanpa gairah. “Bagaimana mau jadi professional kalau selalu merendah
begini, nyaris tak bisa mempromosikan dan membanggakan diri” kali ini tama
begitu serius dengan perkataanya.
“Hey … kenapa jadi serius dan baper gini. Tak biasanya kamu seperti ini Tama” mimik mukanya
berubah penasaran. Matanya membulat dan pandanganya dicondongkan serius ke arah
laki – laki yang juga pelukis itu.
“Iya… seniman jalanan yang mungkin akan selalu
menjadi seniman jalanan” katanya ketus. Sekarang ia membiarkan tubuhnya
terhempas dan bersandar pada bangku besi tua persis berdampingan dengan Rara.
“Ingat Tama. Seniman itu mencurahkan isi hati ke
dalam suatu karya. Professional atau tidaknya seorang seniman bukan kebanggaan
belaka. Tapi kejujuran dalam berkarya itu yang utama. Seni itu jujur, bukan
pencitraan. Bukan ingin dibanggakan dan dilihat hebat serta mendapat pujian.
Karya seorang seniman semata – mata dari proses yang dilaluinya Tama, bukankah
kita pernah belajar itu semua?” kini Rara pun nampak begitu serius menganggapi
kata – kata Tama. Wajahnya kini berapi – api, tapi bukan marah melainkan
semangat yang begitu jelas terpancar dari sorotan matanya.
Tama hanya terdiam. Ia merenungkan apa yang
dikatakan gadis penggemar violin itu. Yang dikatakan Rara benar. Seni itu
tentang kejujuran, bukan pencitraan dan mengejar ketenaran belaka.
Profesionalisme seorang seniman bukan dilihat dari ketenaranya. Tapi dari
penghargaan terhadap proses yang di laluinya. Dan hasil tidak pernah
menghianati proses itu.
“Maaf Rara,
aku hanya ….” kata – katanya terpotong dengan dengusan nafas berat. “Mungkin
aku hanya takut kehilangan setiap proses yang telah kita lalui bersama. Saling
bertukar karya dan saling memberi semangat” lirih suaranya melanjutkan kata –
kata yang sempat terpotong.
Rara hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Tama.
Sepertinya Rara memaklumi apa yang kini ada dalam pikiran laki – laki itu. Rasa
takut yang sama dirasasakan olehnya. Rasa takut kehilangan teman berbagi.
Kehilangan teman untuk mendampingi perjalanan prosesnya berkaryanya itu.
“Tama...” Rara menoleh kea rah laki – laki yang
sekarang duduk terpaku di sampingnya. “Apakah kamu mau berjanji satu hal
padaku?” tanya Rara melanjutkan.
“Apa itu?” Tama kembali bertanya.
“Kita akan selalu bertemu dan bertukar karya. Kamu
dengan lukisan atau sketsamu sedagkan aku dengan lagu baru dari violinku” jawab
Rara tanpa basa – basi. Mukanya begitu serius dan penuh harap.
Tama memandang gadis itu. Mukanya datar dengan
ekspresi tak begitu paham. Berpikir sejenak mencerna apa yang dikatakan Rara.
“Begitu ya, baiklah. Aku setuju” jawab Tama. Senyumnya tersungging ramah dan
renyah.
“Janji ya, empat hari lagi kita bertemu di sini. Aku
dengan lagu baru ku dan kamu dengan sketsamu” Rara mengulurkan tanganya dan
diacungkan jari kelingkingnya sebagai ikatan janji mereka.
“Janji” ucap Tama seraya mengeratkan kelingkingnya
pada kelingking Rara. Dan senyum pun mengembang di antara keduanya. Ada janji
yang tengah terjalin di antara violinist dan pelukis itu. Janji untuk saling
bertemu dan berbagi serta bertukar karya di Taman Kota. Janji yang disaksikan
oleh bunga – bunga di taman yang kini mulai menguncup dan langit senja yang
perlahan mulai menunjukan warna gelapnya.
***
“Rara, kamu di
mana. Maaf aku terlambat datang. Aku sungguh lupa. Hari ini ada pameran lukisan
di pasar seni. Aku lupa memberitahumu.”
#Tama.
Dilihatnya
pesan singkat dari notifikasi smartphone yang terselip di saku cardigan-nya. Hanya sekejap Rara menatap
pesan singkat dari Tama kemudian memasukkanya kembali ke dalam saku tanpa
membalasnya.
Kekecewaan masih jelas menyayat hatinya yang lembut
itu. Wajahnya nampak lesu dan tak bergairah. Matanya masih saja sendu, sembab
karena tangis beberapa saat yang lalu. Kini bis kota membawanya meninggalkan Taman kota dengan
janji yang hancur tiada arti. Rara tak ingin mengingatnya lagi, mencoba
memejamkan mata di tengah sesaknya bis kota. Hanya violin dalam tasnya yang
kini berada dalam pelukkanya. Sang violinist dan Janji pelukis yang sedang
dilupakanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar