Fokus, ramainya pengunjung tidak
membuat konsentrasiku terganggu. Mataku masih menatap tajam pada objek di depanku.
Pada senyuman yang sedang tertuju padaku. Ya. Aku dengan sengaja memintamu
untuk tersenyum. Karena senyummulah aku dapat bertahan berjam – jam. Karena
senyummulah semangatku menggelora untuk selalu datang dan menunggumu di tempat
ini. Dan karena senyummu terkadang aku
kehilangan semangatku.
“Baiklah. Sudah selesai.” Aku
menyunggingkan senyuman pada lukisan yang baru saja kuselesaikan. “Sungguh
senyuman yang indah Nona” dengan mantap aku menyodorkan hasil lukisanku pada perempuan
yang dari tadi menjadi objek lukisanku.
“Kamu memang pelukis sekaligus
perayu ulung Leon” tanganya menyambut kertas hasil lukisanku. Perlahan tapi
pasti senyumnya merekah menghiasi wajahnya.
“Bagaimana? Apa ada yang kurang ?
tanyaku penasaran.
“It’s perfect Leon” goresan dan
gradiasi warnanya sungguh hidup. Pujinya kagum dengan mata yang berbinar.
“Sejujurnya, aku nyaris frustasi
melukiskan senyummu itu. Rasanya otakku mengerucut nyaris menghabiskan seluruh
konsentrasiku” kataku dengan penuh makna.
Tak ada kata yang terucap. Hanya alis
yang terangkat samar dibalik kacamata yang ia kenakan.
“Ah tidak, lupakan saja. Itu bukan
apa – apa” aku menimpali rasa penasaranya yang belum terjawab.
Bibirnya tersungging kesal. Nafasnya
mendengus pelan, enggan melanjutkan percakapan. Aku hanya tersenyum melihat
mimik wajah itu. Tak lama senyumnya membalas dan menghapus kekesalanya yang
sempat melintas di bibir manisnya itu.
“Terimakasih untuk hari ini Leon,
untuk lukisan dan juga candamu” senyum tipis yang tampak begitu ikhlas dan
tulus itu mengalir di bibirnya.
“Baiklah, kuharap kamu tidak bosan
padaku dan juga lukisanku” jawabku memberi isyarat dan mengedipkan mata.
Tak ada kata, senyumnya kembali
mengisyaratkan isi hatinya yang tak pernah ku tahu. Satu hal yang pasti kali
ini adalah senyuman perpisahan. Senyuman yang biasa kudapatkan dari para model
lukisanku. Perlahan kakinya mengayun santai
meninggalkanku. Meninggalkan sisa – sisa senyum manis yang terekam jelas di
otaku. Hanya itu, selalu pergi dengan senyum manisnya.
Sejenak aku mengabaikan kepergianya.
Kurentangkan tanganku melemaskan otot – ototku yang mengencang. Kutarik napas panjang
dan kuhembuskan perlahan. Rasanya seluruh beban ini terlepas bebas bersama
karbondioksida, melayang bersama udara ke angkasa. Dan kurasa cukup untuk hari
ini.
Kawasan Kota Tua Jakarta selalu
ramai pengunjung, terutama saat hari
libur. Bukan hanya dari ibu kota saja, tetapi juga dari luar kota. Daya
tariknya ? Ya, seperti namanya Kota Tua dengan bangunan – bangunan peninggalan
zaman Belanda ini masih terawatt hingga sekarang.
Aku ? Aku hanya menikmati suasana
ini. Sendiri, atau kadang ditemani oleh orang yang sudi menemani. Tidak. Sebenarnya
tidak semenyedihkan itu. Hanya saja aku lebih banyak menghabiskan waktuku
menghadapi easel, kanfas atau kertas,
pensil atau kuas, dan juga cat serta palet. Tak ada waktu pasti untukku datang
ke tempat ini. Karena apa yang kulakukan bukan sebuah tuntutan tapi sebuah
kenikmatan yang lahir dari hobiku. Seniman jalanan.
Kuletakan easel di sampingku dengan kertas berukuran A3. Entah untuk siapa
hari ini, aku tidak pernah tahu. Yang pasti akan ada senyuman baru yang
kupandang dan kutuangkan ke atas kertas ini. Ya siapapun tak boleh bersedih di
hadapanku. Dan jika itu terjadi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri
seandanya tak bisa membuatnya tersenyum. Hingga akhirnya senyumanya akan
tertuang di atas kertasku.
Dua hasil goresan pensil amatirku
terpajang bersandar pada easel yang kusetel berdiri. Sketsa yang tidak diambil
oleh pemiliknya. Memintaku untuk menyimpanya dan sekarang kupajang untuk
menemaniku di Kota Tua hari ini. Sendiri. Aku selalu menikmati saat – saat ini.
Di tengah ramainya pengunjung yang tak pernah kukenal dan hanya satu dua orang
saja yang sudi untuk menghampiriku. Sekedar melihat hasil lukisanku atau jika
nasib baik berpihak padaku mereka akan meminta menjadi model lukisanku.
Entah sejak kapan dia berdiri di
depan easel dan dua lukisanku. Wajah sendu dengan tatapan hampa terpaku di
hadapanku. Bukan, di hadapan lukisanku. Nyaris tak ada ekspresi apapun yang
timbul dari sosok gadis bertopi lebar ini. Masih terdiam kakinya berpijak kuat
menahan beban yang sepertinya teramat berat.
“Permisi Nona, ada yang bisa saya
bantu?” tanyaku dengan lembut dan sopan.
“Sketsa yang bagus. Meski hanya
menggunakan satu warna tapi nampak nyata dan begitu hidup” kata – katanya
terhenti sejanak. “Senyum yang terpancar terlihat begitu tulus dan jujur” lanjutnya. Matanya masih terpaku mengamati
sketsa yang ada dihadapanya.
“Mereka ingin aku menyimpanya. Setelah
aku selesai melukis. Aku tak pernah tahu pasti apa lasanya. Dan akhirnya akupun
mengabulkan permintaan mereka” dengan
pasti ku jelaskan tentang seketsa itu. Hingga kini aku berdiri tepat di
sampingnya. “Pelukis senyum. Begitulah mereka menyebutku” kataku melanjutkan.
“Pelukis senyum?” menoleh dan kini
pandanganya tertuju padaku. Rasa penasaran terpancar jelas dari matanya. Kini
dua pasang mata beradu dalam keasingan dua insan yang baru saja bertemu.
Matanya menatapku dalam. Nampak kesenduan di matanya, ada beban kesedihan yang
berat sedang ditahanya.
“Iya pelukis senyum” senyumku
tersungging sebelum melanjutkan kata – kataku. “Aku hanya mau melukis mereka
dengan mimik muka tersenyum, atau tidak sama sekali. Dan jika memang harus, aku
akan berusaha membuat mereka agar bisa tersenyum” kuhembuskan nafas panjag
mengakhiri penjelasanku.
Perempuan itu masih terdiam
memandangi dua lukisanku itu. Datar tanpa ekspresi. Sepertinya kata – kataku
tidak berhasil membujuk dan mengundang rasa penasaranya. Masih berdiri kokoh
kakinya berpijak, tanganya yang putih itu membenarkan posisi topi lebar yang ia
kenakan. Tangan yang satunya melihat ke arah gadget yang ia pegang. Begitu
serius matanya menatap sesuatu yang ada pada layar gadget itu. Hingga kemudian
ia memasukan kembali gadgetnya ke dalam sling bag warna coklat yang ia kenakan.
“Aku tertarik dengan lukisanmu, tapi aku harus
pergi sekarang. Lain kali aku akan datang lagi. Selamat tinggal Pelukis
Senyum.” Senyumnya tersungging tipis ia tinggalkan di akhir percakapan singkat
ini. Senyum yang dari tadi cukup berat untuk mengalir di bibirnya.
Lagi. Datangnya tak pernah terduga
dan perginya selalu meninggalkan bekas di memori otaku. Sudah belasan atau
bahkan mungkin puluhan orang datang dan pergi dengan suka hatinya. Singgah
hanya untuk memandang lukisanku. Obrolan singkat kadang terjadi, meskipun hanya
basa – basi dan perkenalan tanpa arti. Cukup untuk hari ini. Kota Tua kembali
menjadi saksi bisu pertemuan dan senyum dengan sosok yang lagi – lagi tak ku
ketahui namanya.
Aku berjalan santai menyusuri jalan
di kawasan Kota Tua. Dengan easel yang ku tenteng dan beberapa gulungan kertas
serta peralatan melukis lainya tertata rapi di dalam tas berwarna biru pudar.
Cuaca hari ini cukup bersahabat. Awan menutupi teriknya matahari namun tidak
ada tanda – tanda akan turun hujan. Semilir angin menyambut kedatanganku,
membelai wajah dan membiarkan rambut ku sedikit berantakan ditiup angin.
Di sana. Mataku memandang tempat di
mana aku biasa memajang lukisanku dan menunggu senyum yang akan datang
menghampiriku. Seperti biasa aku mengeluarkan peralatanku dan segera memajang
easel dan kertas kosong yang menunggu senyum hari ini. Tentunya dengan dua
lukisan yang ditinggalkan pleh pemiliknya padaku. Tidak teralalu ramai. Hari
ini memang bukan hari libur sehingga kawasan Kota Tua tidak seramai pada saat
hari libur.
Kutuangkan kopi panas dari termos
kecil yang sengaja kusiapkan dari rumah. Aromanya menyeruak menusuk masuk dari
rongga hidung hingga menuju ke otakku. Nikmat sekali. Scangkir kopi untuk
mengawali hari ini. Perlahan mulutku menyesap secangkir kopi dalam pelukan
jemariku. Aromanya semakin tajam terasa masuk ke otakku, menyegarkan dan
membuka mataku. Semangat hidupku seperti terbakar kembali. Cafein di dalamnya
sungguh menyegarkan tubuhku. Hingga aku tidak menyadari sosok yang sedang
mendekat ke arahku. Dan sekarang tepat di depanku.
Senyumnya tersungging tipis
menatapku yang sedang asik dengan scangkir kopi. Matanya bersinar penuh
keceriaan. Gaun putih selutut ala bangsawan Belanda turut menambah keanggunanya
dengan topi putih lebar menghiasi kepalanya. Rambut yang terurai melambai
dibelai hembusan angin, menjadikannya seperti bidadari yang baru diturunkan
Tuhan dari kayangan.
Aku masih terpaku melihat sosok di
hadapanku ini. Mataku enggan memalingkan pandanganku. Seperti patung. Jemariku
masih tetap erat memeluk cangkir kopi yang dari tadi kunikmati.
“Apakah kamu melukis?” pertanyaanya
menyadarkanku dari pesonanya.
“Eh… ehmm iya” aku masih terbata –
bata, belum sepenuhnya kesadaranku pulih dari pesonanya yang membiusku.
“Apakah kamu melukis untuk seseorang?”
bibir manisnya itu diam sejenak “atau dapatkah kamu melukis untukku?” Dan
benar. Wanita ini adalah kiriman Tuhan dari kayangan untukku hari ini. Tidak
pernah terduga dan disangka. Setiap yang datang padaku semua misterius dan
mengejutkan. Dan dialah senyuman untuk hari ini.
“Tentu saja. Tapi ada peraturan
khusus dariku” matanya membulat penuh tanya. Alis dan dahinya mengerut
mengisyaratkan pertanyaan yang tak dikatakanya. “Orang – orang menyebutku
pelukis senyum, kerena setiap orang yang ku lukis tidak boleh bersedih. Atau
lebih tepatnya tersenyum” aku mulai menjelaskan peraturan dalam lukisanku.
“Tidak masalah pelukis senyum”
jawabnya ringan. Senyumnya kembali mengalir dengan gigi putih mengintip di sela
– sela bibirnya. Lesung pipinya tegas terukir membatasi senyuman di wajahnya.
“Leon, kamu bisa memanggilku Leon”
senyumku tersungging tipis menyebut namaku sendiri.
“Baiklah Leon, dan panggil saja aku
Clara” senyumnya kembali merekah menghiasi wajahnya yang begitu sumringah.
“Jadi kapan kamu akan mulai melukisku?” katanya tak sabar.
“Duduklah di sini Clara” tanganku
mempersilakan Clara duduk di bangku besi tua yang memang sudah ada di sini.
“Dan satu lagi, berikan senyum termanismu nona” aku mengerjapkan mataku sebagai
tanda akan memulai melukis.
Sketsa, dengan sedikit arsiran yang
akan menimbulkan efek gradiasi. Segera kuambil kotak pensil yang di dalamnya
terdapat bermacam – macam pensil. Mulai dari jenis F, H hingga 8B. Tanganku sigap
memulai menggamabar pola bentuk wajahnya yang oval dengan rambut yang sengaja
di buat poni. Topi lebar yang dikenakanya, hingga setengah badanya telah
tergambar di atas kertas berukuran A3. Kini tinggal memberikan efek arsiran dan
gradiasi untuk mempertegas. Yang akan membuat lukisan ini hidup adalah arsiran
dengan sedikit magic gradiasinya.
Senyumnya terjaga bersahaja. Jelas
terekam di memori otakku. Garis lesung pipinya begitu tegas menghiasi
senyumanya. Matanya khas orang timur dengan warna cokelat. Alisnya begitu
tertata dan terawat. Lehernya yang jenjang semakin jelas dihiasi kalung dengan
pernak – pernik melingkar cantik menghiasinya.
Aku ingin berlama – lama. Menikati
senyumanya. Menikmati setiap lekuk wajahnya. Menikmati lukisan karya Tuhan yang
satu ini. Hingga semuanya tertuang di atas kertas dihadapanku. Dan selesai. Bibirku tersungging tipis
melihat hasil lukisanku. Sempurna. Seperti duplikat dari Clara.
“Dan akhirnya, selesai Clara” aku
mengedipkan mata pada Clara yang masih tersenyum manis. Kini dia bangun dari
tempat duduknya dan menghampiriku. “Senym yang sempurna” ucapku dengan nada
membanggakan lukisan dan senyuman Calara.
Matanya berbinar, pipinya memerah
dan bibirnya kembali dialiri senyuman yang merekah. Belum ada kata yang terucap
dari bibir tipis itu. Ada rasa bahagia yang terpancar dari matanya.
“Sempurna Leon, hasil lukisanmu
sungguh hidup” matanya masih memandangi lukisan dirinya. Sesekali mulutnya
terbuka seakan tak percaya.
Aku tersenyum tipis dan mengerjapkan
mata. “Dan aku hanya menuangkan apa yang kulihat dari mataku. Refleksi dari
objek yang ada di hadapanku. Dan itu kamu Calara. Senyuman untuk hari ini.”
Tak ada lagi kata yang yang terucap
dari Clara, senyum manis untuk hari ini. Gadis itu begitu gembira dengan
lukisan yang kini berpindah di tanganya. Tak hentinya dia berdecak kagum. Aku
hanya tersenyum melihat tingkahnya yang begitu ceria. Keceriaan dari Clara yang
Tuhan kirimkan untukku hari ini.
Cukup untuk hari ini. senyum manis
Clara sebagai anugerah indah dari Tuhan utukku dan untuk lukisan di pelataran Kota
Tua. Senyuman yang kini terekam jelas dala memori otakku. Menambah
perbendaharaan dalam pustaka seni otakku. Hingga akan datang senyum – senyum yang lain menghampiriku. Di Kota Tua aku
menantimu dan senyumanmu. Tersenyumlah, karena senyumanmu akan membahagiakan
orang – orang di sekitarmu. Termasuk aku, Pelukis Senyum.