Selasa, 20 November 2018

Titik Balik, Bait Pertama



Warna jingga memudar, pertanda senja tidak lagi tegar. Suara angin berbisik mengantarnya pulang pada Penciptanya, pada palung ufuk barat yang tak pernah diketahui seberapa dalamnya, tetapi selalu mampu menenggelamkan senja, tanpa bekas dan sisa. Menjelang malam, senyummu menghilang digantikan lampu-lampu jalan. Lalu lalang nyanyian kendaraan, aroma angin yang tidak beraturan, disatupadukan dalam sebuah melodi jalanan.

Aku adalah buku tua yang ditulis oleh pemendam doa-doa. Hampir setiap hari tanganya menuntun pena menari bersamaku, di atas serat kayu yang usang. Keberuntunganku, akulah satu-satunya tempatnya bercerita, selebihnya,- pada Sang Maha, begitulah katanya. Doa-doa baik yang dikemas pada barisan kalimat yang tertata, menguatkan aku sebagai buku tua yang semakin usang,-tapi tidak diabaikan. Semakin hari, aku paham, bahwa doanya semakin kuat. Bahagiaku, dia menyertakanku dalam kisahnya. Aku, saksi atas kisahnya.

Hari-demi hari, Tuanku, si penulis pemendam doa semakin kuat, dengan kalimat dan segala prasangka baik yang menyinari setiap langkah dan tuturnya. Lagi-lagi, aku adalah saksi setiap kisahnya.

Bahagia demi bahagia dituangkanya padaku, tentang pencapaianya, tentang banyak doa dan semoga yang dirasa semakin dekat. Namun, semakin hari aku semakin tak tersentuh. Kini aku hanyalah buku tua kumpulan puisi lama, doa dan semoga yang dirasa sudah cukup untuknya. Beberapa doa dan semoga yang telah diceritakanya padaku telah terlaksana, aku tahu itu, dan engkau tak lagi bercerita. Kau semakin jauh, kuingatkan, bukan ini yang kau tuju.

Kini hanyalah buku tua yang terabaikan, kau lalai dalam singkatnya senja. Lalai bahwa malam akan menjemput dan menenggelamkanmu lebih lama. Dalam kegelapan, mampukah kau bertahan? Senja tak lagi tersenyum, terlihatpun tidak. Matamu semakin gelap, Kau belum juga siuman dari lamunan. Dan kini, aku berdebu, doa-doamu tak lagi kau sentuh dan kau ucap, usang, dilupakan dan pura-pura senang.

Suatu pagi, langkah kecilmu mengantarkan pada gradasi langit di ufuk timur. Kau hanya bisa tersenyum pahit, jauh dari rasa syukur. Kau datang padaku, aku diam. Ingin kuteriakan di telingamu bahwa kau begitu dungu. Tapi ku hanya diam, karena kau sedang berusaha bangkit setelah lama tenggelam. Jemarimu menyentuhku, tepat di bait pertama, kau tersenyum, senyum yang sekian lama pudar dari ingatan. Satu persatu lembaran kau baca ulang, tulisan tanganmu telah usang, doa-doamu belum hilang. Aku menyimpanya dengan rapi seperti yang kau mau, karena jika suatu kali kau lupa, aku hanya bisa mengingatkanmu dengan debu yang menutupi tubuhku. Kau kembali tersenyum, matamu membendung, menggumpal awan hitam di kelopak matamu, kaca-kaca bening mulai hancur bertaburan. Benarkah kau sudah pulang?
Aku senang kau kembali. Tersengal kau berbisik pada pena yang kau genggam.

"Aku berbalik, memutar bola mata pada puisi-puisi lama di dalam buku tua. Ku baca ulang, aku tersesat dari arah tuju, menyimpang pada kordinat yang keliru, setitik demi setitik menjauhkan, masa demi masa membinasakan. Aku kembali kepada bait pertama,tertatih ku letih,bait pertama".

20 Nov 2018

Minggu, 21 Oktober 2018


Menatap Langit
POV : Liliana Tarataya.

Langit di malam hari tak selalu indah untuk ditatap. Terlebih jika cuaca sedang mendung, maka langit akan semakin gelap. Ya, sejatinya langit malam itu gelap, karena ditinggalkan mentari yang sepanjang hari menerangi. Tidak selalu, hanya saja jika sedang beruntung, ribuan bintang ramai menghiasi dengan kerlipan yang saling menggantikan.

Langit itu luas, saat malam dan gelap menjelang, akan tampak semakin buas. Bak tawa yang terbahak, menertawakan kesepian yang semakin sesak.

Sendiri menjadi saat yang paling tepat menikmati malam, menatap pada kebesaran yang maha luas. Keganasan luasnya tampak tak bertepi, bahkan kesepian yang ditawarkan tampak begitu menakutkan. Dulu, ada yang pernah bilang padaku, jangan telalu laa menatap langit malam, karena kamu akan merasa kesepian. Ya memang benar, saat menatap langit malam yang gelap dan maha luas, dengan bintang berkelip nan ramai, di bawah sini, aku merasa sendirian dan semakin sepi. Namun tidak selamanya sepi itu buruk, tidak selamanya sepi itu menakutkan bukan?

Tentang malam dan segala kelam yang pernah dikisahkan, argumentasiku menampik semua itu. Karena seseorang, mengajarkan dengan menatap langit malam memberikan ketenangan.

Malam itu di sebilah teras yang tidak cukup luas, aku berbincang denganya. Bukan berbincang tentang hal-hal yang penting memang, namun aku suka berbincang denganya. Dia selalu suka menatap langit malam, bercerita banyak. Sambil menatap tower crain pada gedung yang sedang dibangun, dia banyak berkisah. Dengan sangat nyaman dia berkisah, dapat kurasakan, ada ketenangan di sana. Yang aku tahu, dia suka menatap langit, melihat bintang, melihat lampu-lampu pada tower crain di depan sana.

Melihatnya menatap langit aku suka, ketenangan ku lihat pada dirinya, pada setiap kisah yang diceritakan ku merasa nyaman dan terkesan. Entah sejak kapan aku suka dengan kisah yang dia ceritakan, dan entah sejak kapan aku mulai menyukai menatap langit, bersamanya. Menatap langit bersamanya tak seperti kisah yang ku dengar dulu, tak lagi terasa sepi, justru keadaan berbalik menjadi sangat nyaman. Ketika langit malam yang ku tatap bersamamu dihiasi ribuan bintang, maka malamku cukup hanya dihiasi oleh hadirmu dan kisah-kisah dari bibirmu. Ku akan selalu rindu, menatap langit bersamamu, di teras rumah menikmati secangkir teh panas.


Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...