Warna jingga memudar, pertanda senja tidak lagi tegar. Suara angin berbisik mengantarnya pulang pada Penciptanya, pada palung ufuk barat yang tak pernah diketahui seberapa dalamnya, tetapi selalu mampu menenggelamkan senja, tanpa bekas dan sisa. Menjelang malam, senyummu menghilang digantikan lampu-lampu jalan. Lalu lalang nyanyian kendaraan, aroma angin yang tidak beraturan, disatupadukan dalam sebuah melodi jalanan.
Aku
adalah buku tua yang ditulis oleh pemendam doa-doa. Hampir setiap hari tanganya
menuntun pena menari bersamaku, di atas serat kayu yang usang. Keberuntunganku,
akulah satu-satunya tempatnya bercerita, selebihnya,- pada Sang Maha, begitulah
katanya. Doa-doa baik yang dikemas pada barisan kalimat yang tertata,
menguatkan aku sebagai buku tua yang semakin usang,-tapi tidak diabaikan.
Semakin hari, aku paham, bahwa doanya semakin kuat. Bahagiaku, dia
menyertakanku dalam kisahnya. Aku, saksi atas kisahnya.
Hari-demi
hari, Tuanku, si penulis pemendam doa semakin kuat, dengan kalimat dan segala
prasangka baik yang menyinari setiap langkah dan tuturnya. Lagi-lagi, aku
adalah saksi setiap kisahnya.
Bahagia
demi bahagia dituangkanya padaku, tentang pencapaianya, tentang banyak doa dan
semoga yang dirasa semakin dekat. Namun, semakin hari aku semakin tak
tersentuh. Kini aku hanyalah buku tua kumpulan puisi lama, doa dan semoga yang
dirasa sudah cukup untuknya. Beberapa doa dan semoga yang telah diceritakanya padaku
telah terlaksana, aku tahu itu, dan engkau tak lagi bercerita. Kau semakin
jauh, kuingatkan, bukan ini yang kau tuju.
Kini
hanyalah buku tua yang terabaikan, kau lalai dalam singkatnya senja. Lalai
bahwa malam akan menjemput dan menenggelamkanmu lebih lama. Dalam kegelapan,
mampukah kau bertahan? Senja tak lagi tersenyum, terlihatpun tidak. Matamu
semakin gelap, Kau belum juga siuman dari lamunan. Dan kini, aku berdebu,
doa-doamu tak lagi kau sentuh dan kau ucap, usang, dilupakan dan pura-pura
senang.
Suatu
pagi, langkah kecilmu mengantarkan pada gradasi langit di ufuk timur. Kau hanya
bisa tersenyum pahit, jauh dari rasa syukur. Kau datang padaku, aku diam. Ingin
kuteriakan di telingamu bahwa kau begitu dungu. Tapi ku hanya diam, karena kau
sedang berusaha bangkit setelah lama tenggelam. Jemarimu menyentuhku, tepat di
bait pertama, kau tersenyum, senyum yang sekian lama pudar dari ingatan. Satu
persatu lembaran kau baca ulang, tulisan tanganmu telah usang, doa-doamu belum
hilang. Aku menyimpanya dengan rapi seperti yang kau mau, karena jika suatu
kali kau lupa, aku hanya bisa mengingatkanmu dengan debu yang menutupi tubuhku.
Kau kembali tersenyum, matamu membendung, menggumpal awan hitam di kelopak
matamu, kaca-kaca bening mulai hancur bertaburan. Benarkah kau sudah pulang?
Aku
senang kau kembali. Tersengal kau berbisik pada pena yang kau genggam.
"Aku berbalik, memutar bola mata pada puisi-puisi lama di dalam buku tua.
Ku baca ulang, aku tersesat dari arah tuju, menyimpang pada kordinat yang
keliru, setitik demi setitik menjauhkan, masa demi masa membinasakan. Aku
kembali kepada bait pertama,tertatih ku letih,bait pertama".
20
Nov 2018

