Jumat, menjadi hari menggembirakan
untuk para pekerja dimana hari itu adalah hari menjelang akhir pekan. Beberapa
instansi pada umunya hanya aktif sampai hari jumat. Maka berbahagialah bagi
mereka yang pada hari jumat merupakan hari terakhir bekerja dan libur akhir
pekan pada hari Sabtu – Minggunya.
Jumat, pukul 15.30 dimana orang –
orang mulai hilir mudik pulang dari kantor tempatnya bekerja. Sama halnya
dengan Rafa, sepulang dari kantor tempatnya bekerja dia bergegas menuju kedai
kopi langgananya. Hal ini sudah menjadi kebiasaanya setelah pulang kerja
terutama di akhir pekan. Suasana sore biasa dihabiskanya dengan bersantai
dengan secangkir kopi dan menikmati senja di pinggiran kota.
Suasana kedai kopi sore ini masih
sepi, sehingga Rafa leluasa memilih tempat duduk yang dia sukai. Di sudut
ruangan dekat jendela, dimana dia bisa menikmati kopi dengan hilir mudik orang
dan kendaraan yang berlalu lalang.
Capucino panas, jenis minuman ini selalu ia nikmati
di hari jumat. Bukan tanpa alasan, namun ada hal yang sedang dia tunggu bersama
secangkir capucino.
"Aku tunggu di tempat biasa", Rafa
mengirim chat Line dan foto secangkir Capucino.
Di sudut ruangan Rafa duduk memandangi luar ruangan.
Sedangkan mulutnya asik menikmati capucino. Matanya menerawang mencari sosok
yang ditunggunya. Tanpa sadar lamunanya mengantarkan pada saat sebulan yang
lalu di kedai kopi ini. Saat pertama dia berjumpa dengan sosok manis bersama
secangkir kopi.
Jumat yang sama satu bulan yang lalu di kedai kopi
ini. Rafa bergegas masuk berteduh di kedai kopi ini. Dia memesan secangkir
capucino sembari menunggu hujan reda. Suasana kedai cukup ramai, mungkin karena
hujan sehingga banyak yang singgah sembari menikmati kopi menunggu hujan reda. Hampir
semua bangku terisi oleh pengunjung. Pandangan Rafa menyapu seluruh sisi
ruangan hingga matanya berhenti di satu titik sudut ruangan. Satu kursi kosong,
tepatnya meja dan sepasang kursi. Satu kursi kosong dengan pasangan kursi yang
telah ditempati pengunjung. Seorang perempuan yang seusia dengan Rafa sedang
asik menikmati kopi. Tak ada pilihan lain, Rafa bergegas menuju sudut ruangan
dimana kursi kosong itu berada.
“Permisi, boleh duduk disini ?”
“Oh, iya silahkan. Kebetulan nggak ada yang nempatin.”
“Beneran ? Nggak ada yang lagi ditunggu?”
“Iya serius, lagian aku cuma berteduh sambil iseng
nyoba kopi disini.”
“Terimakasih”
Rafa duduk di kursi sudut ruangan. Tanpa disengaja
bersama seorang sosok manis di matanya. Mulutnya asik menikmati capucino yang
dia pesan. Sedangkan sosok perempuan yang belum dikenalnya ini menikmati kopi
sembari melihat suasana di luar jendela. Cukup kaku untuk dua orang yang baru
bertemu, satu tempat tapi tak bicara. Setidaknya Rafa harus memulai mencairkan
suasana agar tidak terlalu kaku.
“Suka ngopi disini?”
“Ah, iya maaf
gimana?” Nampak kaget dengan pertanyaan Rafa
“Iya, kamu suka ngopi disini?”
“Sesekali aja sih kalo pulang kerja. Kebetulan tadi
hujan, jadi sekalian mampir kesini. Kalau kamu?”
“Aku. Iseng aja tadi berteduh karena hujan. Sekalian
nyobain kopi disini.”
“Aku Riana, boleh tahu namamu?”
“Panggil saja Rafa, dan ternyata inisial nama kita
sama. Kebetulan yang menarik” Rafa tersenyum mencoba membuka obrolan.
Riana hanya tersenyum mendengar basa – basi Rafa
yang mencoba mencairkan suasana. Senyumnya mengembang lebar, manis, semanis
capucino dalam gelas. Renyah, senyumnya terus merekah di atas gelas kopi warna
putih. Sebuah pemandangan indah di sore hari. Bagai pelangi yang muncul setelah
hujan. Keindahanya terlukis diatas gelas kopi yang dipegangnya.
“Pertemuan ini tanpa sengaja. Sebuah kebetulan
karena hujan sehingga kita bertemu disini. Apakah kita bisa bertemu lagi?” kata
Rafa mencoba kembali membuka obrolan.
Riana tersenyum. Dan lagi senyuman itu merekah indah
diatas gelas kopi ditanganya. Kata – kata yang ingin dia ucapkan tertahan
bersama kopi yang kemudian ditelanya. Masih tanpa kata Riana menggerakan
alisnya, mencoba mengisyaratkan apa yang akan diucapkanya.
“Jika besok, atau akhir pekan depan kembali hujan,
mungkin kita bisa bertemu lagi disini. Dan mungkin akan selalu bertemu tanpa
alasan dan tanpa hujan” jawab Riana
“Jadi, Jum’at di jam yang sama, di tempat yang sama”
“Ya. Kamu bisa menungguku dan bisa jadi Aku
menunggumu” kata Riana dengan kembali tersenyum.
Rafa dan Riana melanjutkan obrolanya. Dekat dan
semakin akrab meskipun mereka baru saja berjumpa. Kopi menjadi pembuka
perkenalan mereka. Mengantarkan pada janji untuk saling menunggu dan bertemu.
Dari secangkir kopi dan senyum diatas gelas.
#
“Kali ini Kamu yang menungguku, dan Aku mencarimu
meski meja yang dipesan tak pernah pindah” Suara itu menyadarkan Rafa dari
lamunanya. Suara yang sangat dikenalnya, dengan kata – kata khas. Ungkapan
dengan kiasan yang lagi – lagi harus dipahami sebelum menjawabnya.
Senyuman Riana menyambut penantian Rafa di sore ini.
Penantian bersama secangkir capucino. Bagi Rafa menunggu Riana sama halnya
dengan menikmati secangkir capucino. Tidak bisa diminum sekali habis, tapi
harus bersabar agar nikmatnya terasa lama. Pelan – pelan di seruput, harumnya
pun harus dinikmati. Begitulah penantianya untuk Riana, dinikmati dalam
secangkir capucino.
“Nungguin kamu itu nggak ada bosanya, seperti
menikmati capucino ini” Jawab rafa dengan gaya bahasa yang khas bahwa
penantianya untuk Riana tidak ada bosanya.
“Analogimu masih sama dengan minggu lalu Rafa ,
hehe. Oh iya bagaimana aktifitasmu minggu ini?”
“Masih sama, ya masih sama seperti dulu, masih
selalu menunggumu Riana. Dan ,… minggu ini menjadi minggu yang cukup padat
untukku. Ditambah lagi ditempat kerjaku ada HRD baru, sehingga harus banyak
penyesuaian. Jadi, bagaimana dengan seminggu aktifitasmu Riana?”
“Ya. Seminggu ini sibuk dengan tugas – tugas ujian
mahasiswaku. Sibuk karena harus mengoreksi jawaban ujian dan merekap nilai
selama satu semester. Beberapa hari begadang dan masih ditemani secangkir
kopi”. Lagi kata – katanya diakhiri dengan senyuman.
“Setiap jumat pun masih sama, saling menunggu atau
mencari. Ditempat yang sama dan di meja yang sama. Dengan kopi yang sama. Tapi
dengan cerita yang berbeda” kata Rafa sembari menyeruput capucino di
cangkirnya. Kata – katanya kembali disambut dengan senyuman dan gerakan alis
Riana yang seringkali tidak mudah dimengerti oleh Rafa. Begitu terus berlanjut
obrolan di sore itu. Mereka selalu bertemu di hari jumat sore sekedar menikmati
kopi dan menghabiskan suasana sore. Bertukar cerita selama satu minggu yang
telah mereka lewati.
Dari secangkir kopi Tuhan mempertemukan. Dari
secangkir kopi saling berjanji. Dari secangkir kopi mengembang senyum manis
diatas gelas. Senyuman yang membuat penantian tiada bosan. Senyuman yang
membuat akhir pekan semakin menyenagkan. Senyuman diatas gelas yang menghapus
lelah menjadi sebuah ketenangan. Akan terus seperti itu. Seperti pelangi
setelah hujan. Datangnya sekejap tapi akan terus berulang seperti senyummu yang
akan selalu kunanti setiap akhir pekan.
