Oleh : Sidik
Aryono
If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the same?........
Suara
lagu itu masih terus mengalun di telinganya yang disumpal dengan earphone.
Komat-kamit samar terlihat bibirnya mengikuti lirik lagu yang sedang
didengarnya. Tangan kananya dijejalkan ke saku celana jeans yang sekarang sudah nampak lusuh. Sedangkan tanganya yang
sebelah kiri menepuk-nepuk paha mengikuti alunan lagu.
Lili berjalan memasuki rumah mewah
yang memang sudah tidak asing baginya. Tak
ada yang berubah, masih sama seperti dulu,gumamnya dalam hati. Kakinya
terus melangkah tegas melewati ruang tamu. Sofa yang ditata rapi dengan meja
kaca serta bunga lili menghiasinya. Perlahan bibirnya menyunggingkan seulas
senyuman melihat bunga lili di atas meja kaca. Hanya sekejap, Lili melanjutkan
langkahnya meninggalkan bunga lili dan ruang tamu yang sepi. Langkahnya tak
lagi tegas. Kakinya diseret dan sesekali terhenti. Tubuhnya kini memaku tanpa
ekspresi. Matanya yang bulat itu kini memandang kedepan dengan tegas. Pandangan
tajam pada sesuatu yang kini menarik perhatianya.
Kotak
persegi panjang dengan tinggi dua meter itu kini terpampang di hadapanya. Kaca
yang transparan memudahkanya melihat ke dalam isi kotak tersebut. Lili masih
terdiam membeku, tak ada ekspresi dari wajahnya. Kakinya seperti mengakar kuat
pada lantai yang dipijaknya. Tangan kananya masih tetap bersarang di saku celana. Sedangkan tangan kirinya tak lagi
berdendang menepuk-nepuk paha, membeku seperti tubuhnya sekarang ini. Perlahan Lili
mengerjapkan matanya, mencoba memperjelas apa yang sedang dilihat di hadapanya.
Alunan musik di telinganya berhasil diabaikan. Meskipun begitu, tubuhnya masih
diam, membeku menyatu dengan kesepian yang mulai menyelimuti dirinya.
Lili
mengeluarkan tangan kanan dari saku celananya. Perlahan tangan kananya itu
diangkat hingga kini telah meraba kaca yang menghalangi antara dirinya dan apa
yang ada di dalam kotak berselimut kaca tersebut. Kini wajah yang
sedari tadi kaku telah menyunggingkan seulas senyuman. Sementara tanganya
masih meraba kaca di hadapanya. Perlahan bergerak meraba kaca transparan itu, mencoba merasakan apa yang ada
dibalik kaca. Mata sayup itu menatap dalam mengikuti gerakan tangan yang masih meraba-raba.
Lili menghentikan gerakan tanganya
pada salah satu benda yang ada di balik kaca itu. Matanya memandang semakin
tajam. Nafasnya dihembuskan perlahan seperti melepaskan beban di tubuhnya itu. Benda ini, gumam Lili dalam hati. Tanganya
mencoba merapa benda di balik kaca itu. Sesuatu yang kini membuat otaknya
mengerucut. Memori-memori pendek berputar perlahan di otaknya. Tubuhnya kini
semakin kaku, seakan benda yang ada di balik kaca itu menghipnotisnya.
Gadis itu masih terdiam di hadapan
sebuah kotak persegi panjang dengan tinggi dua meter itu. Ruangan yang sepi turut
menambah keheningan.
Kotak di hadapanya itu berhasil mengantarkan
pada beberapa masa lalunya. Ya, lemari itu menyimpan banyak benda yag dirawat
dan di simpan di balik kaca. Benda-benda yang kini membawa Lili pada masa
remajanya. Biola kesayanganya tersimpan rapi di sana, di dalam lemari kaca
bersama kenangan-kenanganya.
***
Suara tepuk tangan terdengar riuh
bergema di dalam auditorium sekolah. Seorang gadis berusia sekitar 16 tahun
berdiri di atas panggung mengenakan gaun putih selutut. Rambutnya dibiarkan
terurai dengan bandana putih melingkar di kepala. Senyumnya mengembang semakin
lebar, gigi putih terlihat mengintip di sela-sela bibirnya. Matanya berbinar
hampir berkaca-kaca. Kedua tanganya memeluk biola yang baru saja dimainkan.
Sekejap kemudian dia menundukan badan sebagai penghormatan kepada audience.
Kemudian gadis itu berjalan menuju ke
belakang panggung diantarkan dengan tepuk tangan
yang kembali riuh.
“Keren banget, penampilan kamu
barusan keren banget Li, sumpah deh!” seru Hanna menyambut Lili yang baru saja
turun dari panggung.
Lili hanya tersenyum manis mendengar
pujian dari sahabatnya itu. Namun dia berjalan nyelonong begitu saja melalui
Hanna. Langkahnya tertuju pada bangku di belakang panggung tempatnya menunggu
giliran tampil tadi. Hanna yang merasa diabaikan oleh Lili mendengus kesal dan
kemudian menyusul Lili.
“Oke oke, kamu udah kaya violinist terkenal dan professional. Turun dari panggung
hanya tersenyum dan mengabaikan orang yang pertama kali menyapamu.” Hanna
berdiri di depan Lili dengan tangan berkacak pinggang. Guratan kekesalanya pada
sahabatnya itu masih jelas terlihat di wajahnya. Namun lagi-lagi Lili hanya
tersenyum melihat ulah sahabatnya itu. Lalu …
“Kenapa kamu jadi uring-uringan
begitu Hanna. Kamu nggak tahu betapa sulitnya aku harus mengontrol muka yang grogi
setengah mati ini. Ya, meskipun hasilnya cukup memuaskan” tanganya segera
merogoh tas yang ada di sampingnya. Sekarang botol berisi air mineral itu sudah ada di tanganya, siap meluncur membasahi
tenggorokkanya yang kering seperti dilanda kemarau panjang.
Memang ini adalah penampilan perdana
Lili untuk menunjukan kebolehanya dalam memainkan biola. Sebelumnya dia sangat
rajin berlatih, meskipun hal itu
dilakukanya diam-diam namun sangat teratur. Alhasil, sekarang dia cukup
puas dengan penampilan perdananya. Meskipun demam panggung masih menggerayangi
dirinya saat membawakan permainan biolanya. Hal itu nampak jelas, terlihat dari keringat yang
kini masih bercucuran dan terus bermunculan sebesar biji jagung membasahi
kening perlahan mengalir hingga ke
leher.
Hanna yang masih kesal hanya terdiam
di samping Lili. Tanganya bersedekap di depan dada. Namun sebenarnya dia tidak
sekesal itu. Hanya saja,
dia merasa diabaikan oleh sahabatnya yang sedang memulai menjadi violinist ini. Ya, Hanna memang sengaja menemani Lili
dan memberi semangat penuh kepada sahabatnya itu. Sedangkan kedua orang tua
Lili tidak tahu menahu mengenai hal ini.
“Jadi kamu ngambek nih Han? Masa
gitu aja ngambek. Hanna kan sahabat yang paling baik, cantik, setia dan tidak
sombong” hibur Lili seraya merayu
“Terus rajin menabung, ramah tamah,
murah senyum bla bla bala… seperti biasanya Lili pandai merayu” lanjut Hanna.
Hening sejenak. Kemudian kedua gadis
itu berpandangan. Tak kuasa melihat mimik wajah satu sama lain kemudian mereka
berdua tertawa tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Sesaat kemudian mereka berpelukan. Ya,
hal itu memang sudah biasa terjadi antara Lili dan Hanna.
***
Lili melangkah melewati pagar
rumahnya yang tidak di kunci. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri akhirnya
dia berlari menjinjit menuju pintu rumahnya. Tanganya pelan-pelan memegang
gagang daun pintu berwarna keemasan. Perlahan diputar gagang pintu itu dan… klik, bagus nggak dikunci, gumam Lili.
Dibukanya perlahan daun pintu berwarna putih nan lebar itu. Dengan posisi
memunggungi, Lili memasuki rumah dan dirinya kini lenyap dibalik pintu. Lalu
kemudian…
“Lili, darimana saja kamu!” suara
itu terdengar jelas. Suara dari orang yang begitu dikenalnya. Suara ayah.
Seketika tubuh Lili membeku. Tubuhnya menghadap pintu dengan tangan masih
menggenggam gagang pintu. Seketika
gagang pintu terasa menyatu dengan tanganya. Badanya
terasa membatu, tak bisa digerakan dan begitu kaku. Bibirnya juga kelu tak bisa
berkata sepatah katapun. Matanya dipejamkan kuat-kuat membayangkan
apa yang akan terjadi berikutnya. Oh
Tuhan, sejak kapan ayah berada di sana. Dia pasti akan sangat marah. Dia pasti
marah kalau…
“Liliana, jawab
pertanyaan Ayah”
Lili kembali tersentak mendengar nada suara ayah
yang sepertinya sangat marah. Perlahan Lili memberanikan diri membalikan badan. Dengan
pandangan mata tertunduk dia mulai menyeret kakinya mendekati suara ayahnya berasal.
Dia sudah sangat hafal.
Ayahnya sekarang sedang duduk di ruang tamu menunggu
kepulanganya. Namun Lili tidak berani membayangkan wajah ayahnya yang sedang penuh amarah.
“Tidak pantas, jam segini anak
perempuan baru pulang” masih dengan nada tinggi ayahnya berbicara. Sesekali
mata laki-laki itu menatap jam taganya. “Kamu main biola lagi? Ayah sudah
bilang berapa kali sama kamu, menjadi
pemain biola itu tidak punya masa depan yang cerah. Kamu harus belajar yang
rajin. Sebentar lagi ujian kelulusan dan kamu akan melanjutkan ke perguruan
tinggi. Kamu harus jadi dokter, melanjutkan cita-cita Ayah.” Nyaris tanpa jeda perkataan ayahnya tak
mampu dibantah oleh gadis itu.
“Tapi ayah…”
“Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya
kamu harus masuk kuliah kedokteran titik!” Ayahnya
kini berdiri memandang anaknya dengan penuh amarah, karena anak
satu-satunya itu mencoba membantah perkataanya.
“Ayah egois. Ayah nggak mikirin
Lili. Ayah cuma mentingin diri sendiri. Lili juga berhak memilih jalan hidup
Lili Ayah” pipinya kini
memanas. Matanya berkaca-kaca hingga sedetik kemudian air matanya mengalir
membasahi pipi halusnya.
“Kamu nggak tahu apa apa Lili.
Turuti saja kata Ayah.
Itu yang terbaik dan nggak ada tapi-tapian. Sekarang cepat masuk kamar!” Ayahnya kembali
membentak gadis itu. Tanganya diacungkan menunjuk ke arah kamar Lili.
Air matanya masih mengalir. Bibirnya
bergetar seperti mengucapkan sesuatu namun tidak terdengar sama sekali. Bahkan, dia pun tidak yakin
bahwa dia telah mengucapkan kata-kata. Dengan tangis yang masih sesenggukan Lili
berlari menuju kamarnya. Tanganya memeluk biola kesayanganya itu. Memeluk rasa
sesak dan kepedihan yang kini menyelimuti hatinya.
Bayangan lili menghilang di balik
pintu kamar, meninggalkan sosok laki-laki di ruang tamu yang baru saja
membentaknya hingga menangis sesenggukan. Namun bagi sang ayah itulah yang
terbaik. Dia tidak mau mimpi buruknya terulang, cita-citanya untuk menjadi
dokter harus diwujudkan
oleh putri semata wayangnya itu.
***
“Non Lili udah pulang?” Entah sejak kapan perempuan
berusia lima puluh tahunan sudah berada
di dekat Lili.
Sedangkan Lili masih terdiam memandangi biola yang
tersimpan di balik
lemari kaca.
Lili masih diam tak bergerak.
Matanya memandang begitu dalam pada biolanya itu. Angan-anganya kini melayang
ke masa lalu. Karena lamunanya itu,
dia tidak sadar sedang diperhatikan oleh perempuan yang teryata adalah Bi Inah,
pembantu di rumahnya.
“Non” panggil Bi Inah kedua kalinya, menyentuh lengan Lili yang masih
meraba kaca lemari itu.
Lili sontak kaget tersadar dari
lamunanya. Sekejap pandanganya terlalihkan pada sosok Bi Inah yang berada di sampingnya. Oh Bi Inah, gumam Lili. Rasa terkejutnya
sedikit reda setelah tahu sosok yang ada di sampingnya itu. Disunggingkan
seulas senyuman menutupi rasa terkejutnya yang belum mereda.
“Eh bibi, ngagetin aja” sahut Lili
kemudian.
Bi Inah tersenyum memperhatikan Lili
yang begitu dalam memandangi biola di dalam lemari itu . “Bibi yang menyimpanya
di Lemari. Dan tentunya Ayah
non Lili yang meminta bibi untuk menyimpanya. Jadi nggak ada salahnya bibi
menyimpanya di lemari ini, sekalian
untuk hiasan non” kata Bi Inah menjelaskan
dengan logat Tegal yang begitu medok.
“Terimakasih Bi, biola itu sangat
berarti buat Lili. Banyak kenangan dan cerita bersamanya” senyumnya kembali
merekah. “Oh iya bi, ayah sama bunda dimana ?” tanya Lili kemudian.
“Tuan sama nyonya sedang pergi ke
acara sahabatnya. Mungkin sebentar lagi pulang. Non Lili istirahat dulu aja,
pasti capek abis perjalanan jauh. Bibi udah nyiapin kamarnya buat Non”
“Baiklah bi kalau begitu, Lili mau
istirahat dulu. Kalo Ayah
sama Bunda udah pulang kasih
tahu Lili ya” pesan Lili pada Bi Inah.
“Baik Non” Bi Inah tersenyum
mengiyakan. Sekejap kemudian Lili melangkah meninggalkan Bi Inah di ruang tamu.
Bayanganya kini segera menghilang di balik pintu kamarnya.
***
“Lili udah pulang Bi?” tanya seorang
laki-laki yang baru saja memasuki rumah mewah itu. Dia adalah ayah Lili.
“Sudah tuan, non Lili sedang
istirahat di kamarnya. Biar saya bangunin dulu …” belum sempat Bi Inah
menyelesaikan kalimatnya…
“Tidak usah Bi, biarin dia
istirahat. Nanti saya yang bangunin Lili” kata sang majikan. Sedangkan Bi Inah
menurut saja hingga kemudian meminta izin untuk melanjutkan pekerjaanya di
dapur.
***
Di kamar Lili.
Gadis itu tergeletak di atas tempat
tidur. Posisinya meringkuk dengan handpone masih digenggamnya. Kepalanya pun
tidak beralaskan bantal, jelas dia kelelahan sampai ketiduran seperti itu. Sepatu dan kaos kakinya
masih melekat erat di kakinya. Begitupun dengan baju dan celananya, masih sama
seperti yang digunakan saat di ruang tamu tadi. Begitu tenang, tubuhnya tak
bergerak sama sekali. Lili terlalu lelah hingga tertidur pulas seperti itu.
Klik.
Terdengar suara pintu kamar terbuka dari luar. Kamar Lili memang sengaja tidak dikunci. Suara itu
sama sekali tidak
mengusik tidur gadis itu. Sepasang suami istri muncul dari balik pintu memasuki
kamar Lili. Ayah dan Bunda. Perlahan mereka memperhatikan putrinya yang sedang
tertidur di atas ranjang. Sesaat kemudian mereka saling berpandangan. Seperti
mengisyaratkan keduanya pun saling tersenyum. Akhirnya sepasang suami istri
tersebut berjalan mendekati ranjang tempat diamana Lili sedang tertidur pulas.
Mereka duduk di pinggir ranjang,
tepat di belakang Lili yang meringkuk memunggungi mereka.
Hening. Ayah dan bunda tak saling
bicara. Mata mereka tertuju pada satu arah, pada anak mereka yang sekarang
sedang tertidur pulas. Seakan segan membangunkan anaknya yang sedang dalam
kelelahan itu. Perlahan bunda mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang,
membelai rambutnya dengan lembut. Tersungging senyuman dari bibirnya itu. matanya
berbinar memandang putri yang sudah cukup lama tak dilihatnya.
Bunda,
batin Lili. Dia merasakan ada yang sedang membelai dan mengusap kepalanya.
Meskipun masih dengan mata terpejam dia cukup mengenali sosok yang ada di sampingnya
itu. Bunda. Perlahan matanya dibuka dengan malas. Tubuh lelahnya itu digerakan
berbalik ke arah sang bunda yang sedang memandanginya. Masih dalam posisi
terbaring, bibirnya tersenyum saat dilihatnya sang bunda juga sedang tersenyum
memandanginya. “Bunda” Lili segera bergegas bangkit dan memeluk sang
bunda. Begitu juga bunda balas memeluk anaknya dengan hangat, tanganya perlahan
mengusap punggung putrinya itu.
“Lili kangen sama Bunda” suaranya
terdengar lirih dan manja.
Keduanya masih saling berpelukan. Sedangkan sang bunda hanya tersenyum dan
masih mengusap punggung putrinya yang merengek seperti anak kecil. Lili
menyandarkan dagunya pada bahu sang bunda. Perlahan mengerjapkan mata dan menangkap
sosok yang berdiri di depan matanya, di belakang sang bunda.
“Ayah” mata Lili masih berbinar
mamandang sang ayah. Sekejap Lili melepas pelukan pada bundanya. Tubuhnya masih
lemas karena belum sepenuhnya sadar setelah bangun tidur. Namun kini dia telah
beranjak dari tempat tidur melangkah menghampiri ayahnya kemudian memeluk erat
tubuh ayahnya itu.
“Ayah,
maafin Lili” masih dalam pelukan sang ayah yang juga memeluknya
penuh kasih. Lili teringat peristiwa saat ia sering sembunyi-sembunyi berlatih
biola dan mengikuti berbagai perlombaan. Karena kegiatanya itu sama sekali
tidak disetujui ayahnya, dan lili pun sering pulang terlambat hingga membuat
ayahnya marah. Lili kini merasa berdosa pada ayahnya. Meskipun kini dia
sedang menempuh studi kedokteran, menjadi pemain biola yang professional juga
masih diimpikanya.
Ayahnya menghembuskan nafas perlahan
melapaskan segala beban yang penuh sesak di dadanya. Dia juga mulai menyadari
kesalahanya di masa lalu yang
terlalu memaksakan kehendaknya pada Lili untuk melanjutkan impianya. Meskipun
demikian, dia tidak sepenuhnya
membenci hobi anaknya sebagai pemain biola. Hal itu terbukti dengan ayahnya
yang masih menyimpan biola kesayangan Lili
di dalam lemari. Bahkan letaknya berada di ruang utama.
“Ayah juga minta maaf. Ayah terlalu
memaksakan kehendak ayah padamu. Ayah
masih menyimpan
biolamu di lemari. Bi Inah yang selalu merawat
dan membersihkanya” kini kedua mata anak dan ayah itu saling berpandangan.
Tersungging senyuman dari sang ayah pada putrinya itu. Suasana segera mencair,
ayah pun melepaskan pelukanya. Dengan memegang pundak anaknya, kepalanya dicondangkan
kedepan pandangan putriya itu.
“Masih mau memainkan biola?” tanya
sang ayah tiba-tiba
Lili tidak langsung menjawab,
kemudian mengangguk mengiyakan.
“Baiklah, ayah dan Bunda ingin mendengarkan
permainan biolamu” lanjut sang ayah dengan pandangan tegas pada putrinya itu.
Lili tidak dapat berkata-kata
mendengar perkataan ayahnya itu. Seperti
mimpi. Ayah yang dulu sangat melarangnya bermain biola kini ingin mendengar
permainanya. Ini akan menjadi
moment pertama kalinya dia menunjukkan kebolehanya di depan orang tuanya.
Sbelumnya Lili
selalu sembunyi-sembunyi jika ingin bermain biola. Dia salah mengira, ternyata
ayah tidak sepenuhnya membenci hobinya. Ayah hanya menginginkan Lili mewujudkan cita-citanya menjadi
seorang dokter. Ayah juga menyimpan biolanya di
balik kaca lemari dengan rapid an terawat. Lili
menyadari apa yang dilakukan ayahnya adalah untuk kebaikanya juga, untuk masa
depanya.

