Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 November 2021

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd 

*

=====================================

ini menyenangkan,

kadang kita lupa dan keasikkan,

momen tak seberapa yang terlontar secara spontan,

terbawa ke bawah sadar yang mugkin jadi anggunan masa depan.



Foto : @siarfotografi.ig

masih menyenangkan,

memacu adrenalin dan luapan dopamin,

tertawa dan menyendu sesaat seperti diberi formalin kemasan,

namun besok sudah dipaksa diubah jalan, dituntun dan dipimpin.


tidak lagi menyenangkan,

jika lewatnya kilasan video tentang masa lalu,

ingin merindu dan reuni lagi dengan yang berelawan,

tapi sepertinya hari ini tidak ada lagi hari Minggu.


sungguh tidak menyenangkan,

inti seru yang tak sempat direkam,

oleh memori dan kamera di tangan kanan,

yang tinggal hanyalah senyum masam dihari yang menjelang malam. (**)

.

. ### Rindu yang terlupa, tak terasa usia tak mungkin mengulang kesenangan yang tak pernah direncanakan. (Author)




Minggu, 29 Agustus 2021

Jejak











Tingkat sepi paling mengerikan, adalah terdiam di tengah kerumunan. Setumpuk rindu terpendam, diam menjadi bahasa, doa jadi satu-satunya upaya.

Sepi tak juga menghibur hati, meski diri hanya ingin sendiri. Kicau burung semakin kacau, angin mendesah semakin resah, gusar tak tahu apa hendak dibuat.

Pada pada terik yang melirik tak menarik, tubuh ini terbang, melayang meninggalkan tulang belulang. Jiwa yang semakin tak berdaya mencari tempat singgah nya.

Keresahannya tak juga padam, justru semakin mendalam. Keputusannya berhenti sejenak, menyiangi rumput tanya, menziarahi pemakaman masa lalu. Adakah yang dapat menjawab, tentang soal yang kini ku bawa. Sebab bising kota tak juga puaskan tanya-tanya.

Aku berhenti sejenak, merenung pada jejak yang tak berjejak.

.

 (SAD : Pelukis Senja)


Kamis, 25 Mei 2017

Sebenarnya Rindu

Sebenarnya Rindu

Hai malam...
Apakah kau pernah merindukan siang?
Jika itu terlalu berlebihan
Apakah kau pernah mengenal
Atau sekedar mendengar tentang siang
Kenapa diam?
Apakah ada yang sedang kau pendam?
Baiklah, gelapmu sudah cukup mengatakan
Bahasa rindu yang tak terungkapkan

Hai siang...
Apakah kau mengenal malam?
Sebab kutanya malam
Dia hanya diam dan muram
Seperti malam dan juga bungkam
Memendam teka-teki dalam diam

Hai malam.... hai siang....
Kini aku yang terdiam
Dan aku tahu yang membuatmu bungkam
Rindu terpendam yang teramat dalam
Yang hanya tertahan dalam diam
Terpenjara dalam bungkam

Bolehkah aku bertanya?
Apakah ini rindu sebenar-benarnya rindu?
Bagaimana kalian merindu?
Sedang siang dan malam tiada pernah bertemu
Sungguh ini sebenar-benarnya rindu
Bukan berujung pada bertemu
Namun keabadian berdampingan

Kini aku mengerti
Arti rindu, sebenar-benarnya rindu
Saling berbisik dalam doamu
Bukan dengan hanya bertemu
Namun dipasangkan dengan abadi
Bukan menemukan tapi saling menggantikan
Itu rindumu
Siang dan malam
Saling menjaga dan tiada bertemu

Sabtu, 20 Mei 2017

Ajak Aku, Di sini Pilu

Selayu inikah hatiku
Tak lagi bisa semanis empedu
Semakin suram setiap sabtu
Tak kunjung pulih di ujung minggu


Kau yang duduk di sana bercanda riang
Terbesitkah besok kan datang?
Takutkah tawamu akan hilang?
Atau kau biarkan sampai pulang


Bisakah kau ajak aku untuk rindu
Terik ini pekat bercampur kelabu
Manis hati tak terasa cuma pilu
Sekarang duduk diam di balik kelambu


Raungan melodi tak mempan menenangkan
Takut selipan suara akan datang
Menutup indra bukan lagi pilihan
Dalam kedap mungkin temukan jawaban

Kamis, 22 Desember 2016

Kelana

Hening, tak ada suara

Gelap tak ada cahaya
Sunyi dan begitu sepi
Hampa, hambar tanpa rasa
Kosong, polos tanpa warna
Sebuah cerita perjalanan

Sang pengelana jalanan
Jalan terus berjalan
Berdampingan ataupun sendirian
Hari semakin hari tak ada kejelasan
Siapakah dirimu ?
Karena semakin hari aku tak mengenal siapakah dirimu
Sama saja seperti biasanya
Sperti senjata tak bertuan
Dan malam selalu menjadi teman
Siang menjadi jalan
Menembus waktu yang tak kunjung berujung
Dimanakah Tuan, tempat kurcaci pulang
Tak kunjung ditemukan
Tak kunjung jua berjumpa
Masih berkelana hingga kita dipertemukan
Entah di persimpangan jalan, diujung jalan, atau pun hanya satu kedipan
Dan Kelana akan terus berjalan.....

Mentari

Selamat pagi mentari pagi

Silaumu menusuk mata
Memaksa aku terbangun dari mimpi
Yang tiada jadi nyata
Pengelana ini masih sendiri
Mencari definisi dari kata hati
Layaknya secangkir kopi
Glukosa menyamarkan jati diri
Kopi yang pahit jadi tak berarti
Rasa manismu menutupi

Aku tahu aku ini awam
Dari rasa yang tak kupahami
Hanya sekedar menikmati
Seiring waktu terus berjalan
Meskipun kaki ini tak senantiasa beriringan
Tangan ini tak saling menggenggam
Mata ini tak saling memandang
Kita berpijak di lantai yang berbeda
Meskipun pernah sama
Tapi hanya sekejap saja
Menguap bersama panasnya masa
Engkau berada di sana
Dan aku tau kita tak bersama
Namun masih di bawah langit yang sama
Pada saatnya langit bumi pun akan bertemu
Bahkan tanpa diminta
Bibir ini hanya berucap, dalam doa, layaknya seorang hamba yg meminta
Untuk harapan, untuk impian
Untuk mentari pagi, semoga esok masih ada
Begitu juga kau, yang akan selalu terbit tanpa pesona...

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...