Minggu, 10 September 2017

Senyuman di atas Gelas


          Jumat, menjadi hari menggembirakan untuk para pekerja dimana hari itu adalah hari menjelang akhir pekan. Beberapa instansi pada umunya hanya aktif sampai hari jumat. Maka berbahagialah bagi mereka yang pada hari jumat merupakan hari terakhir bekerja dan libur akhir pekan pada hari Sabtu – Minggunya.
            Jumat, pukul 15.30 dimana orang – orang mulai hilir mudik pulang dari kantor tempatnya bekerja. Sama halnya dengan Rafa, sepulang dari kantor tempatnya bekerja dia bergegas menuju kedai kopi langgananya. Hal ini sudah menjadi kebiasaanya setelah pulang kerja terutama di akhir pekan. Suasana sore biasa dihabiskanya dengan bersantai dengan secangkir kopi dan menikmati senja di pinggiran kota.
            Suasana kedai kopi sore ini masih sepi, sehingga Rafa leluasa memilih tempat duduk yang dia sukai. Di sudut ruangan dekat jendela, dimana dia bisa menikmati kopi dengan hilir mudik orang dan kendaraan yang berlalu lalang.
Capucino panas, jenis minuman ini selalu ia nikmati di hari jumat. Bukan tanpa alasan, namun ada hal yang sedang dia tunggu bersama secangkir capucino.
"Aku tunggu di tempat biasa", Rafa mengirim chat Line dan foto secangkir Capucino.
Di sudut ruangan Rafa duduk memandangi luar ruangan. Sedangkan mulutnya asik menikmati capucino. Matanya menerawang mencari sosok yang ditunggunya. Tanpa sadar lamunanya mengantarkan pada saat sebulan yang lalu di kedai kopi ini. Saat pertama dia berjumpa dengan sosok manis bersama secangkir kopi.
Jumat yang sama satu bulan yang lalu di kedai kopi ini. Rafa bergegas masuk berteduh di kedai kopi ini. Dia memesan secangkir capucino sembari menunggu hujan reda. Suasana kedai cukup ramai, mungkin karena hujan sehingga banyak yang singgah sembari menikmati kopi menunggu hujan reda. Hampir semua bangku terisi oleh pengunjung. Pandangan Rafa menyapu seluruh sisi ruangan hingga matanya berhenti di satu titik sudut ruangan. Satu kursi kosong, tepatnya meja dan sepasang kursi. Satu kursi kosong dengan pasangan kursi yang telah ditempati pengunjung. Seorang perempuan yang seusia dengan Rafa sedang asik menikmati kopi. Tak ada pilihan lain, Rafa bergegas menuju sudut ruangan dimana kursi kosong itu berada.
“Permisi, boleh duduk disini ?”
“Oh, iya silahkan. Kebetulan nggak ada yang nempatin.”
“Beneran ? Nggak ada yang lagi ditunggu?”
“Iya serius, lagian aku cuma berteduh sambil iseng nyoba kopi disini.”
“Terimakasih”
Rafa duduk di kursi sudut ruangan. Tanpa disengaja bersama seorang sosok manis di matanya. Mulutnya asik menikmati capucino yang dia pesan. Sedangkan sosok perempuan yang belum dikenalnya ini menikmati kopi sembari melihat suasana di luar jendela. Cukup kaku untuk dua orang yang baru bertemu, satu tempat tapi tak bicara. Setidaknya Rafa harus memulai mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.
“Suka ngopi disini?”
“Ah, iya maaf  gimana?” Nampak kaget dengan pertanyaan Rafa
“Iya, kamu suka ngopi disini?”
“Sesekali aja sih kalo pulang kerja. Kebetulan tadi hujan, jadi sekalian mampir kesini. Kalau kamu?”
“Aku. Iseng aja tadi berteduh karena hujan. Sekalian nyobain kopi disini.”
“Aku Riana, boleh tahu namamu?”
“Panggil saja Rafa, dan ternyata inisial nama kita sama. Kebetulan yang menarik” Rafa tersenyum mencoba membuka obrolan.
Riana hanya tersenyum mendengar basa – basi Rafa yang mencoba mencairkan suasana. Senyumnya mengembang lebar, manis, semanis capucino dalam gelas. Renyah, senyumnya terus merekah di atas gelas kopi warna putih. Sebuah pemandangan indah di sore hari. Bagai pelangi yang muncul setelah hujan. Keindahanya terlukis diatas gelas kopi yang dipegangnya.
“Pertemuan ini tanpa sengaja. Sebuah kebetulan karena hujan sehingga kita bertemu disini. Apakah kita bisa bertemu lagi?” kata Rafa mencoba kembali membuka obrolan.
Riana tersenyum. Dan lagi senyuman itu merekah indah diatas gelas kopi ditanganya. Kata – kata yang ingin dia ucapkan tertahan bersama kopi yang kemudian ditelanya. Masih tanpa kata Riana menggerakan alisnya, mencoba mengisyaratkan apa yang akan diucapkanya.
“Jika besok, atau akhir pekan depan kembali hujan, mungkin kita bisa bertemu lagi disini. Dan mungkin akan selalu bertemu tanpa alasan dan tanpa hujan” jawab Riana
“Jadi, Jum’at di jam yang sama, di tempat yang sama”
“Ya. Kamu bisa menungguku dan bisa jadi Aku menunggumu” kata Riana dengan kembali tersenyum.
Rafa dan Riana melanjutkan obrolanya. Dekat dan semakin akrab meskipun mereka baru saja berjumpa. Kopi menjadi pembuka perkenalan mereka. Mengantarkan pada janji untuk saling menunggu dan bertemu. Dari secangkir kopi dan senyum diatas gelas.
#
“Kali ini Kamu yang menungguku, dan Aku mencarimu meski meja yang dipesan tak pernah pindah” Suara itu menyadarkan Rafa dari lamunanya. Suara yang sangat dikenalnya, dengan kata – kata khas. Ungkapan dengan kiasan yang lagi – lagi harus dipahami sebelum menjawabnya.
Senyuman Riana menyambut penantian Rafa di sore ini. Penantian bersama secangkir capucino. Bagi Rafa menunggu Riana sama halnya dengan menikmati secangkir capucino. Tidak bisa diminum sekali habis, tapi harus bersabar agar nikmatnya terasa lama. Pelan – pelan di seruput, harumnya pun harus dinikmati. Begitulah penantianya untuk Riana, dinikmati dalam secangkir capucino.
“Nungguin kamu itu nggak ada bosanya, seperti menikmati capucino ini” Jawab rafa dengan gaya bahasa yang khas bahwa penantianya untuk Riana tidak ada bosanya.
“Analogimu masih sama dengan minggu lalu Rafa , hehe. Oh iya bagaimana aktifitasmu minggu ini?”
“Masih sama, ya masih sama seperti dulu, masih selalu menunggumu Riana. Dan ,… minggu ini menjadi minggu yang cukup padat untukku. Ditambah lagi ditempat kerjaku ada HRD baru, sehingga harus banyak penyesuaian. Jadi, bagaimana dengan seminggu aktifitasmu Riana?”
“Ya. Seminggu ini sibuk dengan tugas – tugas ujian mahasiswaku. Sibuk karena harus mengoreksi jawaban ujian dan merekap nilai selama satu semester. Beberapa hari begadang dan masih ditemani secangkir kopi”. Lagi kata – katanya diakhiri dengan senyuman.
“Setiap jumat pun masih sama, saling menunggu atau mencari. Ditempat yang sama dan di meja yang sama. Dengan kopi yang sama. Tapi dengan cerita yang berbeda” kata Rafa sembari menyeruput capucino di cangkirnya. Kata – katanya kembali disambut dengan senyuman dan gerakan alis Riana yang seringkali tidak mudah dimengerti oleh Rafa. Begitu terus berlanjut obrolan di sore itu. Mereka selalu bertemu di hari jumat sore sekedar menikmati kopi dan menghabiskan suasana sore. Bertukar cerita selama satu minggu yang telah mereka lewati.

Dari secangkir kopi Tuhan mempertemukan. Dari secangkir kopi saling berjanji. Dari secangkir kopi mengembang senyum manis diatas gelas. Senyuman yang membuat penantian tiada bosan. Senyuman yang membuat akhir pekan semakin menyenagkan. Senyuman diatas gelas yang menghapus lelah menjadi sebuah ketenangan. Akan terus seperti itu. Seperti pelangi setelah hujan. Datangnya sekejap tapi akan terus berulang seperti senyummu yang akan selalu kunanti setiap akhir pekan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...