Menatap Langit
POV :
Liliana Tarataya.
Langit di malam hari tak selalu
indah untuk ditatap. Terlebih jika cuaca sedang mendung, maka langit akan
semakin gelap. Ya, sejatinya langit malam itu gelap, karena ditinggalkan
mentari yang sepanjang hari menerangi. Tidak selalu, hanya saja jika sedang
beruntung, ribuan bintang ramai menghiasi dengan kerlipan yang saling
menggantikan.
Langit itu luas, saat malam dan
gelap menjelang, akan tampak semakin buas. Bak tawa yang terbahak, menertawakan
kesepian yang semakin sesak.
Sendiri menjadi saat yang paling
tepat menikmati malam, menatap pada kebesaran yang maha luas. Keganasan luasnya
tampak tak bertepi, bahkan kesepian yang ditawarkan tampak begitu menakutkan. Dulu,
ada yang pernah bilang padaku, jangan telalu laa menatap langit malam, karena
kamu akan merasa kesepian. Ya memang benar, saat menatap langit malam yang
gelap dan maha luas, dengan bintang berkelip nan ramai, di bawah sini, aku
merasa sendirian dan semakin sepi. Namun tidak selamanya sepi itu buruk, tidak
selamanya sepi itu menakutkan bukan?
Tentang malam dan segala kelam yang
pernah dikisahkan, argumentasiku menampik semua itu. Karena seseorang,
mengajarkan dengan menatap langit malam memberikan ketenangan.
Malam itu di sebilah teras yang
tidak cukup luas, aku berbincang denganya. Bukan berbincang tentang hal-hal
yang penting memang, namun aku suka berbincang denganya. Dia selalu suka
menatap langit malam, bercerita banyak. Sambil menatap tower crain pada gedung yang sedang dibangun,
dia banyak berkisah. Dengan sangat nyaman dia berkisah, dapat kurasakan, ada
ketenangan di sana. Yang aku tahu, dia suka menatap langit, melihat bintang,
melihat lampu-lampu pada tower crain di
depan sana.
Melihatnya menatap langit aku suka,
ketenangan ku lihat pada dirinya, pada setiap kisah yang diceritakan ku merasa
nyaman dan terkesan. Entah sejak kapan aku suka dengan kisah yang dia
ceritakan, dan entah sejak kapan aku mulai menyukai menatap langit, bersamanya.
Menatap langit bersamanya tak seperti kisah yang ku dengar dulu, tak lagi
terasa sepi, justru keadaan berbalik menjadi sangat nyaman. Ketika langit malam
yang ku tatap bersamamu dihiasi ribuan bintang, maka malamku cukup hanya dihiasi
oleh hadirmu dan kisah-kisah dari bibirmu. Ku akan selalu rindu, menatap langit
bersamamu, di teras rumah menikmati secangkir teh panas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar