Senin, 06 Maret 2017

Pelukis Senyum dan Kota Tua


            Fokus, ramainya pengunjung tidak membuat konsentrasiku terganggu. Mataku masih menatap tajam pada objek di depanku. Pada senyuman yang sedang tertuju padaku. Ya. Aku dengan sengaja memintamu untuk tersenyum. Karena senyummulah aku dapat bertahan berjam – jam. Karena senyummulah semangatku menggelora untuk selalu datang dan menunggumu di tempat ini.  Dan karena senyummu terkadang aku kehilangan semangatku.
       “Baiklah. Sudah selesai.” Aku menyunggingkan senyuman pada lukisan yang baru saja kuselesaikan. “Sungguh senyuman yang indah Nona” dengan mantap  aku menyodorkan hasil lukisanku pada perempuan yang dari tadi menjadi objek lukisanku.
       “Kamu memang pelukis sekaligus perayu ulung Leon” tanganya menyambut kertas hasil lukisanku. Perlahan tapi pasti senyumnya merekah menghiasi wajahnya.
             “Bagaimana? Apa ada yang kurang ? tanyaku penasaran.
            “It’s perfect Leon” goresan dan gradiasi warnanya sungguh hidup. Pujinya kagum dengan mata yang berbinar.
            “Sejujurnya, aku nyaris frustasi melukiskan senyummu itu. Rasanya otakku mengerucut nyaris menghabiskan seluruh konsentrasiku” kataku dengan penuh makna.
            Tak ada kata yang terucap. Hanya alis yang terangkat samar dibalik kacamata yang ia kenakan.
         “Ah tidak, lupakan saja. Itu bukan apa – apa” aku menimpali rasa penasaranya yang belum terjawab.
            Bibirnya tersungging kesal. Nafasnya mendengus pelan, enggan melanjutkan percakapan. Aku hanya tersenyum melihat mimik wajah itu. Tak lama senyumnya membalas dan menghapus kekesalanya yang sempat melintas di bibir manisnya itu.
            “Terimakasih untuk hari ini Leon, untuk lukisan dan juga candamu” senyum tipis yang tampak begitu ikhlas dan tulus itu mengalir di bibirnya.
            “Baiklah, kuharap kamu tidak bosan padaku dan juga lukisanku” jawabku memberi isyarat dan mengedipkan mata.
            Tak ada kata, senyumnya kembali mengisyaratkan isi hatinya yang tak pernah ku tahu. Satu hal yang pasti kali ini adalah senyuman perpisahan. Senyuman yang biasa kudapatkan dari para model lukisanku. Perlahan  kakinya mengayun santai meninggalkanku. Meninggalkan sisa – sisa senyum manis yang terekam jelas di otaku. Hanya itu, selalu pergi dengan senyum manisnya.
            Sejenak aku mengabaikan kepergianya. Kurentangkan tanganku melemaskan otot – ototku yang mengencang. Kutarik napas panjang dan kuhembuskan perlahan. Rasanya seluruh beban ini terlepas bebas bersama karbondioksida, melayang bersama udara ke angkasa. Dan kurasa cukup untuk hari ini.
            ***
            Kawasan Kota Tua Jakarta selalu ramai pengunjung, terutama saat  hari libur. Bukan hanya dari ibu kota saja, tetapi juga dari luar kota. Daya tariknya ? Ya, seperti namanya Kota Tua dengan bangunan – bangunan peninggalan zaman Belanda ini masih terawatt hingga sekarang.
         Aku ? Aku hanya menikmati suasana ini. Sendiri, atau kadang ditemani oleh orang yang sudi menemani. Tidak. Sebenarnya tidak semenyedihkan itu. Hanya saja aku lebih banyak menghabiskan waktuku menghadapi easel, kanfas atau kertas, pensil atau kuas, dan juga cat serta palet. Tak ada waktu pasti untukku datang ke tempat ini. Karena apa yang kulakukan bukan sebuah tuntutan tapi sebuah kenikmatan yang lahir dari hobiku. Seniman jalanan.
           Kuletakan easel di sampingku dengan kertas berukuran A3. Entah untuk siapa hari ini, aku tidak pernah tahu. Yang pasti akan ada senyuman baru yang kupandang dan kutuangkan ke atas kertas ini. Ya siapapun tak boleh bersedih di hadapanku. Dan jika itu terjadi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri seandanya tak bisa membuatnya tersenyum. Hingga akhirnya senyumanya akan tertuang di atas kertasku.
         Dua hasil goresan pensil amatirku terpajang bersandar pada easel yang kusetel berdiri. Sketsa yang tidak diambil oleh pemiliknya. Memintaku untuk menyimpanya dan sekarang kupajang untuk menemaniku di Kota Tua hari ini. Sendiri. Aku selalu menikmati saat – saat ini. Di tengah ramainya pengunjung yang tak pernah kukenal dan hanya satu dua orang saja yang sudi untuk menghampiriku. Sekedar melihat hasil lukisanku atau jika nasib baik berpihak padaku mereka akan meminta menjadi model lukisanku.
          Entah sejak kapan dia berdiri di depan easel dan dua lukisanku. Wajah sendu dengan tatapan hampa terpaku di hadapanku. Bukan, di hadapan lukisanku. Nyaris tak ada ekspresi apapun yang timbul dari sosok gadis bertopi lebar ini. Masih terdiam kakinya berpijak kuat menahan beban yang sepertinya teramat berat.
            “Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku dengan lembut dan sopan.
           “Sketsa yang bagus. Meski hanya menggunakan satu warna tapi nampak nyata dan begitu hidup” kata – katanya terhenti sejanak. “Senyum yang terpancar terlihat begitu tulus dan jujur” lanjutnya. Matanya masih terpaku mengamati sketsa yang ada dihadapanya.
            “Mereka ingin aku menyimpanya. Setelah aku selesai melukis. Aku tak pernah tahu pasti apa lasanya. Dan akhirnya akupun mengabulkan permintaan mereka” dengan  pasti ku jelaskan tentang seketsa itu. Hingga kini aku berdiri tepat di sampingnya. “Pelukis senyum. Begitulah mereka menyebutku” kataku melanjutkan.
            “Pelukis senyum?” menoleh dan kini pandanganya tertuju padaku. Rasa penasaran terpancar jelas dari matanya. Kini dua pasang mata beradu dalam keasingan dua insan yang baru saja bertemu. Matanya menatapku dalam. Nampak kesenduan di matanya, ada beban kesedihan yang berat sedang ditahanya.
            “Iya pelukis senyum” senyumku tersungging sebelum melanjutkan kata – kataku. “Aku hanya mau melukis mereka dengan mimik muka tersenyum, atau tidak sama sekali. Dan jika memang harus, aku akan berusaha membuat mereka agar bisa tersenyum” kuhembuskan nafas panjag mengakhiri penjelasanku.
            Perempuan itu masih terdiam memandangi dua lukisanku itu. Datar tanpa ekspresi. Sepertinya kata – kataku tidak berhasil membujuk dan mengundang rasa penasaranya. Masih berdiri kokoh kakinya berpijak, tanganya yang putih itu membenarkan posisi topi lebar yang ia kenakan. Tangan yang satunya melihat ke arah gadget yang ia pegang. Begitu serius matanya menatap sesuatu yang ada pada layar gadget itu. Hingga kemudian ia memasukan kembali gadgetnya ke dalam sling bag warna coklat yang ia kenakan.
             “Aku tertarik dengan lukisanmu, tapi aku harus pergi sekarang. Lain kali aku akan datang lagi. Selamat tinggal Pelukis Senyum.” Senyumnya tersungging tipis ia tinggalkan di akhir percakapan singkat ini. Senyum yang dari tadi cukup berat untuk mengalir di bibirnya.
            Lagi. Datangnya tak pernah terduga dan perginya selalu meninggalkan bekas di memori otaku. Sudah belasan atau bahkan mungkin puluhan orang datang dan pergi dengan suka hatinya. Singgah hanya untuk memandang lukisanku. Obrolan singkat kadang terjadi, meskipun hanya basa – basi dan perkenalan tanpa arti. Cukup untuk hari ini. Kota Tua kembali menjadi saksi bisu pertemuan dan senyum dengan sosok yang lagi – lagi tak ku ketahui namanya.
            ***
            Aku berjalan santai menyusuri jalan di kawasan Kota Tua. Dengan easel yang ku tenteng dan beberapa gulungan kertas serta peralatan melukis lainya tertata rapi di dalam tas berwarna biru pudar. Cuaca hari ini cukup bersahabat. Awan menutupi teriknya matahari namun tidak ada tanda – tanda akan turun hujan. Semilir angin menyambut kedatanganku, membelai wajah dan membiarkan rambut ku sedikit berantakan ditiup angin.
            Di sana. Mataku memandang tempat di mana aku biasa memajang lukisanku dan menunggu senyum yang akan datang menghampiriku. Seperti biasa aku mengeluarkan peralatanku dan segera memajang easel dan kertas kosong yang menunggu senyum hari ini. Tentunya dengan dua lukisan yang ditinggalkan pleh pemiliknya padaku. Tidak teralalu ramai. Hari ini memang bukan hari libur sehingga kawasan Kota Tua tidak seramai pada saat hari libur.
         Kutuangkan kopi panas dari termos kecil yang sengaja kusiapkan dari rumah. Aromanya menyeruak menusuk masuk dari rongga hidung hingga menuju ke otakku. Nikmat sekali. Scangkir kopi untuk mengawali hari ini. Perlahan mulutku menyesap secangkir kopi dalam pelukan jemariku. Aromanya semakin tajam terasa masuk ke otakku, menyegarkan dan membuka mataku. Semangat hidupku seperti terbakar kembali. Cafein di dalamnya sungguh menyegarkan tubuhku. Hingga aku tidak menyadari sosok yang sedang mendekat ke arahku. Dan sekarang tepat di depanku.
        Senyumnya tersungging tipis menatapku yang sedang asik dengan scangkir kopi. Matanya bersinar penuh keceriaan. Gaun putih selutut ala bangsawan Belanda turut menambah keanggunanya dengan topi putih lebar menghiasi kepalanya. Rambut yang terurai melambai dibelai hembusan angin, menjadikannya seperti bidadari yang baru diturunkan Tuhan dari kayangan.
          Aku masih terpaku melihat sosok di hadapanku ini. Mataku enggan memalingkan pandanganku. Seperti patung. Jemariku masih tetap erat memeluk cangkir kopi yang dari tadi kunikmati.
          “Apakah kamu melukis?” pertanyaanya menyadarkanku dari pesonanya.
          “Eh… ehmm iya” aku masih terbata – bata, belum sepenuhnya kesadaranku pulih dari pesonanya yang membiusku.
           “Apakah kamu melukis untuk seseorang?” bibir manisnya itu diam sejenak “atau dapatkah kamu melukis untukku?” Dan benar. Wanita ini adalah kiriman Tuhan dari kayangan untukku hari ini. Tidak pernah terduga dan disangka. Setiap yang datang padaku semua misterius dan mengejutkan. Dan dialah senyuman untuk hari ini.
          “Tentu saja. Tapi ada peraturan khusus dariku” matanya membulat penuh tanya. Alis dan dahinya mengerut mengisyaratkan pertanyaan yang tak dikatakanya. “Orang – orang menyebutku pelukis senyum, kerena setiap orang yang ku lukis tidak boleh bersedih. Atau lebih tepatnya tersenyum” aku mulai menjelaskan peraturan dalam lukisanku.
        “Tidak masalah pelukis senyum” jawabnya ringan. Senyumnya kembali mengalir dengan gigi putih mengintip di sela – sela bibirnya. Lesung pipinya tegas terukir membatasi senyuman di wajahnya.
            “Leon, kamu bisa memanggilku Leon” senyumku tersungging tipis menyebut namaku sendiri.
          “Baiklah Leon, dan panggil saja aku Clara” senyumnya kembali merekah menghiasi wajahnya yang begitu sumringah. “Jadi kapan kamu akan mulai melukisku?” katanya tak sabar.
           “Duduklah di sini Clara” tanganku mempersilakan Clara duduk di bangku besi tua yang memang sudah ada di sini. “Dan satu lagi, berikan senyum termanismu nona” aku mengerjapkan mataku sebagai tanda akan memulai melukis.
         Sketsa, dengan sedikit arsiran yang akan menimbulkan efek gradiasi. Segera kuambil kotak pensil yang di dalamnya terdapat bermacam – macam pensil. Mulai dari jenis F, H hingga 8B. Tanganku sigap memulai menggamabar pola bentuk wajahnya yang oval dengan rambut yang sengaja di buat poni. Topi lebar yang dikenakanya, hingga setengah badanya telah tergambar di atas kertas berukuran A3. Kini tinggal memberikan efek arsiran dan gradiasi untuk mempertegas. Yang akan membuat lukisan ini hidup adalah arsiran dengan sedikit magic gradiasinya.
        Senyumnya terjaga bersahaja. Jelas terekam di memori otakku. Garis lesung pipinya begitu tegas menghiasi senyumanya. Matanya khas orang timur dengan warna cokelat. Alisnya begitu tertata dan terawat. Lehernya yang jenjang semakin jelas dihiasi kalung dengan pernak – pernik melingkar cantik menghiasinya.
         Aku ingin berlama – lama. Menikati senyumanya. Menikmati setiap lekuk wajahnya. Menikmati lukisan karya Tuhan yang satu ini. Hingga semuanya tertuang di atas kertas dihadapanku.  Dan selesai. Bibirku tersungging tipis melihat hasil lukisanku. Sempurna. Seperti duplikat dari Clara.
       “Dan akhirnya, selesai Clara” aku mengedipkan mata pada Clara yang masih tersenyum manis. Kini dia bangun dari tempat duduknya dan menghampiriku. “Senym yang sempurna” ucapku dengan nada membanggakan lukisan dan senyuman Calara.
         Matanya berbinar, pipinya memerah dan bibirnya kembali dialiri senyuman yang merekah. Belum ada kata yang terucap dari bibir tipis itu. Ada rasa bahagia yang terpancar dari matanya.
       “Sempurna Leon, hasil lukisanmu sungguh hidup” matanya masih memandangi lukisan dirinya. Sesekali mulutnya terbuka seakan tak percaya.
          Aku tersenyum tipis dan mengerjapkan mata. “Dan aku hanya menuangkan apa yang kulihat dari mataku. Refleksi dari objek yang ada di hadapanku. Dan itu kamu Calara. Senyuman untuk hari ini.”
       Tak ada lagi kata yang yang terucap dari Clara, senyum manis untuk hari ini. Gadis itu begitu gembira dengan lukisan yang kini berpindah di tanganya. Tak hentinya dia berdecak kagum. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang begitu ceria. Keceriaan dari Clara yang Tuhan kirimkan untukku hari ini.

         Cukup untuk hari ini. senyum manis Clara sebagai anugerah indah dari Tuhan utukku dan untuk lukisan di pelataran Kota Tua. Senyuman yang kini terekam jelas dala memori otakku. Menambah perbendaharaan dalam pustaka seni otakku. Hingga  akan datang senyum – senyum  yang lain menghampiriku. Di Kota Tua aku menantimu dan senyumanmu. Tersenyumlah, karena senyumanmu akan membahagiakan orang – orang di sekitarmu. Termasuk aku, Pelukis Senyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...