Sepeda
(Part 1)
"Ayah mau ke mana?" Aku bertanya dengan penuh harap. Berharap agar ayah mengajaku naik sepeda bersamanya. Ayah tak menjawab pertanyaanku, dia tersenyum menatapku, rupanya ayah cukup mengerti tentang apa yang ada dipikiranku. Mudah saja baginya menebak raut wajah penuh harap bocah laki-laki berusia lima tahun ini.
"Kamu mau ikut?" Aku tak menjawab pertanyaanya. Aku hanya bisa tertawa tanpa berkata. Setidaknya dengan tingkahku ini mampu meluluhkan hatinya. Aku ingin sekali naik sepeda berkeliling desa bersamanya.
Semenjak itu, aku tak perlu lagi bertanya kepada ayah. Jika ayah sudah menyiapkan sepeda jengki merk phoenixnya di depan rumah, maka aku langsung berlari mendekatinya. Ayah pun tahu maksudku. Seperti biasa ayah mengambil semacam kursi kecil sebagai tempatku duduk di muka. Ayah selalu memboncengku di depan, dengan kursi kecil yang diikatkan pada tulang kerangka sepeda. Di sana aku duduk dengan aman dan melihat dengan leluasa sepanjang perjalanan keliling desa.
Aku masih ingat saat pertama kali masuk sekolah dasar. Pagi-pagi sekali sepeda jengki merk phoenixnya telah bersih mengkilap di depan rumah. Tapi aku tak menemukan ayah di sana. Begitu juga dengan kursi kecil yang biasa ku duduki. Hatiku sudah resah, "Apakah ayah?" Ah! Aku mencoba menepis segala prasangka tanpa dasarku padanya.
"Sudah siap?" Suara itu mengagetkanku. Suara ayah yang sangat kukenal. Subhaanallah, ayahku rapi sekali. Kemeja biru blau yang ia kenakan nampak sangat licin. Dengan celana levis biru yang tak lagi baru namun juga rapi. Yang aku tahu itu hasil lembur tangan terampil ibuku.
Semalam kulihat ibu menyetrikanya dengan setrika besi tradisional berbahan bakar arang sebagai pemanasnya.
Sungguh gagah nian ayahku ini. Bak bujang desa mau kondangan di tempat pak lurah. Senyumku melebar, aku mengangguk semangat. Siap menyusuri pagi memasuki hari pertamaku ke sekolah dasar.
Hatiku sungguh riang tak terkira. Tak ada keraguan dan ketakutan sedikitpun untuk masuk lingkungan baruku, sekolahku, hari pertamaku. Ada ayah yang melindungiku. Ada ayah yang mengantarku, dan mengatakan "Anak ayah itu pemberani, anak ayah akan jadi anak yang pintar". Hanya itu, tapi senyumnya begitu meyakinkan. Senyum dengan balutan keringat lelah mengayuh sepeda. Senyum yang membuatku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan mengecewakanmu.
Setiap keringat yang kau teteskan, semoga menjadi amal baikmu. Setiap retakan di telapak kakimu semoga memudahkan langkahmu memasuki surgaNya. Dan setiap kerutan di wajahmu semoga selalu terselip dzikir yang membuatNya mencintaimu. Dan semoga setiap kapalan yang membekas di telapak tanganmu berbuah manis kelak bagi masa depan kami.
#sepeda #pelukissenja #monologruanghati #lilianatarataya
Jika tubuhku jauh dan tak dapat kau sentuh, Aku akan memelukmu lewat kata tanpa suara yang bergemuruh
Kamis, 17 Agustus 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kemarin' Rindu
*Karya : HepsRmd * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...
-
Gadis itu duduk di bangku taman. Bangku yang terbuat dari besi itu sudah tampak lusuh karena warnanya yang mulai pudar. Kakinya ...
-
Panji melangkah perlahan memasuki kerumunan itu. Taman Lavia, tempat itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh penjuru kota...
-
Rara mendengus kesal. Wajah cerianya hilang berganti dengan mimik muka muram. Senyumnya memudar dihapus bibir tipis yang ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar