Jumat, 25 Agustus 2017

Di Balik Kaca



Di Balik Kaca
Oleh : Sidik Aryono

If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the same?........
            Suara lagu itu masih terus mengalun di telinganya yang disumpal dengan earphone. Komat-kamit samar terlihat bibirnya mengikuti lirik lagu yang sedang didengarnya. Tangan kananya dijejalkan ke saku celana jeans yang sekarang sudah nampak lusuh. Sedangkan tanganya yang sebelah kiri menepuk-nepuk paha mengikuti alunan lagu.
            Lili berjalan memasuki rumah mewah yang memang sudah tidak asing baginya. Tak ada yang berubah, masih sama seperti dulu,gumamnya dalam hati. Kakinya terus melangkah tegas melewati ruang tamu. Sofa yang ditata rapi dengan meja kaca serta bunga lili menghiasinya. Perlahan bibirnya menyunggingkan seulas senyuman melihat bunga lili di atas meja kaca. Hanya sekejap, Lili melanjutkan langkahnya meninggalkan bunga lili dan ruang tamu yang sepi. Langkahnya tak lagi tegas. Kakinya diseret dan sesekali terhenti. Tubuhnya kini memaku tanpa ekspresi. Matanya yang bulat itu kini memandang kedepan dengan tegas. Pandangan tajam pada sesuatu yang kini menarik perhatianya.
            Kotak persegi panjang dengan tinggi dua meter itu kini terpampang di hadapanya. Kaca yang transparan memudahkanya melihat ke dalam isi kotak tersebut. Lili masih terdiam membeku, tak ada ekspresi dari wajahnya. Kakinya seperti mengakar kuat pada lantai yang dipijaknya. Tangan kananya masih tetap bersarang di saku celana. Sedangkan tangan kirinya tak lagi berdendang menepuk-nepuk paha, membeku seperti tubuhnya sekarang ini. Perlahan Lili mengerjapkan matanya, mencoba memperjelas apa yang sedang dilihat di hadapanya. Alunan musik di telinganya berhasil diabaikan. Meskipun begitu, tubuhnya masih diam, membeku menyatu dengan kesepian yang mulai menyelimuti dirinya.
            Lili mengeluarkan tangan kanan dari saku celananya. Perlahan tangan kananya itu diangkat hingga kini telah meraba kaca yang menghalangi antara dirinya dan apa yang ada di dalam kotak berselimut kaca tersebut. Kini wajah yang sedari tadi kaku telah menyunggingkan seulas senyuman. Sementara tanganya masih meraba kaca di hadapanya. Perlahan bergerak meraba kaca transparan itu, mencoba merasakan apa yang ada dibalik kaca. Mata sayup itu menatap dalam mengikuti gerakan tangan yang masih meraba-raba.
            Lili menghentikan gerakan tanganya pada salah satu benda yang ada di balik kaca itu. Matanya memandang semakin tajam. Nafasnya dihembuskan perlahan seperti melepaskan beban di tubuhnya itu. Benda ini, gumam Lili dalam hati. Tanganya mencoba merapa benda di balik kaca itu. Sesuatu yang kini membuat otaknya mengerucut. Memori-memori pendek berputar perlahan di otaknya. Tubuhnya kini semakin kaku, seakan benda yang ada di balik kaca itu menghipnotisnya.
            Gadis itu masih terdiam di hadapan sebuah kotak persegi panjang dengan tinggi dua meter itu. Ruangan yang sepi turut menambah keheningan. Kotak di hadapanya itu berhasil mengantarkan pada beberapa masa lalunya. Ya, lemari itu menyimpan banyak benda yag dirawat dan di simpan di balik kaca. Benda-benda yang kini membawa Lili pada masa remajanya. Biola kesayanganya tersimpan rapi di sana, di dalam lemari kaca bersama kenangan-kenanganya.
            ***
            Suara tepuk tangan terdengar riuh bergema di dalam auditorium sekolah. Seorang gadis berusia sekitar 16 tahun berdiri di atas panggung mengenakan gaun putih selutut. Rambutnya dibiarkan terurai dengan bandana putih melingkar di kepala. Senyumnya mengembang semakin lebar, gigi putih terlihat mengintip di sela-sela bibirnya. Matanya berbinar hampir berkaca-kaca. Kedua tanganya memeluk biola yang baru saja dimainkan. Sekejap kemudian dia menundukan badan sebagai penghormatan kepada audience. Kemudian gadis itu berjalan menuju ke belakang panggung diantarkan dengan tepuk tangan yang kembali riuh.
            “Keren banget, penampilan kamu barusan keren banget Li, sumpah deh!” seru Hanna menyambut Lili yang baru saja turun dari panggung.
            Lili hanya tersenyum manis mendengar pujian dari sahabatnya itu. Namun dia berjalan nyelonong begitu saja melalui Hanna. Langkahnya tertuju pada bangku di belakang panggung tempatnya menunggu giliran tampil tadi. Hanna yang merasa diabaikan oleh Lili mendengus kesal dan kemudian menyusul Lili.
            “Oke oke, kamu udah kaya violinist terkenal dan professional. Turun dari panggung hanya tersenyum dan mengabaikan orang yang pertama kali menyapamu.” Hanna berdiri di depan Lili dengan tangan berkacak pinggang. Guratan kekesalanya pada sahabatnya itu masih jelas terlihat di wajahnya. Namun lagi-lagi Lili hanya tersenyum melihat ulah sahabatnya itu. Lalu …
            “Kenapa kamu jadi uring-uringan begitu Hanna. Kamu nggak tahu betapa sulitnya aku harus mengontrol muka yang grogi setengah mati ini. Ya, meskipun hasilnya cukup memuaskan” tanganya segera merogoh tas yang ada di sampingnya. Sekarang botol berisi air mineral itu sudah ada di tanganya, siap meluncur membasahi tenggorokkanya yang kering seperti dilanda kemarau panjang.
            Memang ini adalah penampilan perdana Lili untuk menunjukan kebolehanya dalam memainkan biola. Sebelumnya dia sangat rajin berlatih,  meskipun hal itu dilakukanya diam-diam namun sangat teratur. Alhasil, sekarang dia cukup puas dengan penampilan perdananya. Meskipun demam panggung masih menggerayangi dirinya saat membawakan permainan biolanya. Hal itu nampak jelas, terlihat dari keringat yang kini masih bercucuran dan terus bermunculan sebesar biji jagung membasahi kening perlahan mengalir hingga ke leher.
            Hanna yang masih kesal hanya terdiam di samping Lili. Tanganya bersedekap di depan dada. Namun sebenarnya dia tidak sekesal itu. Hanya saja, dia merasa diabaikan oleh sahabatnya yang sedang memulai menjadi violinist ini. Ya, Hanna memang sengaja menemani Lili dan memberi semangat penuh kepada sahabatnya itu. Sedangkan kedua orang tua Lili tidak tahu menahu mengenai hal ini.
            “Jadi kamu ngambek nih Han? Masa gitu aja ngambek. Hanna kan sahabat yang paling baik, cantik, setia dan tidak sombong” hibur Lili seraya merayu
            “Terus rajin menabung, ramah tamah, murah senyum bla bla bala… seperti biasanya Lili pandai merayu” lanjut Hanna.
            Hening sejenak. Kemudian kedua gadis itu berpandangan. Tak kuasa melihat mimik wajah satu sama lain kemudian mereka berdua tertawa tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Sesaat kemudian mereka berpelukan. Ya, hal itu memang sudah biasa terjadi antara Lili dan Hanna.
***
            Lili melangkah melewati pagar rumahnya yang tidak di kunci. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri akhirnya dia berlari menjinjit menuju pintu rumahnya. Tanganya pelan-pelan memegang gagang daun pintu berwarna keemasan. Perlahan diputar gagang pintu itu dan… klik, bagus nggak dikunci, gumam Lili. Dibukanya perlahan daun pintu berwarna putih nan lebar itu. Dengan posisi memunggungi, Lili memasuki rumah dan dirinya kini lenyap dibalik pintu. Lalu kemudian…
            “Lili, darimana saja kamu!” suara itu terdengar jelas. Suara dari orang yang begitu dikenalnya. Suara ayah. Seketika tubuh Lili membeku. Tubuhnya menghadap pintu dengan tangan masih menggenggam gagang pintu. Seketika gagang pintu terasa menyatu dengan tanganya. Badanya terasa membatu, tak bisa digerakan dan begitu kaku. Bibirnya juga kelu tak bisa berkata sepatah katapun. Matanya dipejamkan kuat-kuat membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Oh Tuhan, sejak kapan ayah berada di sana. Dia pasti akan sangat marah. Dia pasti marah kalau…
            “Liliana, jawab pertanyaan Ayah” Lili kembali tersentak mendengar nada suara ayah yang sepertinya sangat marah. Perlahan Lili memberanikan diri membalikan badan. Dengan pandangan mata tertunduk dia mulai menyeret kakinya mendekati suara ayahnya berasal. Dia sudah sangat hafal. Ayahnya sekarang sedang duduk di ruang tamu menunggu kepulanganya. Namun Lili tidak berani membayangkan wajah ayahnya yang sedang penuh amarah.
            “Tidak pantas, jam segini anak perempuan baru pulang” masih dengan nada tinggi ayahnya berbicara. Sesekali mata laki-laki itu menatap jam taganya. “Kamu main biola lagi? Ayah sudah bilang berapa kali sama kamu, menjadi pemain biola itu tidak punya masa depan yang cerah. Kamu harus belajar yang rajin. Sebentar lagi ujian kelulusan dan kamu akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kamu harus jadi dokter, melanjutkan cita-cita Ayah.” Nyaris tanpa jeda perkataan ayahnya tak mampu dibantah oleh gadis itu.
            “Tapi ayah…”
            “Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu harus masuk kuliah kedokteran titik!” Ayahnya kini berdiri memandang anaknya dengan penuh amarah, karena anak satu-satunya itu mencoba membantah perkataanya.
            “Ayah egois. Ayah nggak mikirin Lili. Ayah cuma mentingin diri sendiri. Lili juga berhak memilih jalan hidup Lili Ayah” pipinya kini memanas. Matanya berkaca-kaca hingga sedetik kemudian air matanya mengalir membasahi pipi halusnya.
            “Kamu nggak tahu apa apa Lili. Turuti saja kata Ayah. Itu yang terbaik dan nggak ada tapi-tapian. Sekarang cepat masuk kamar!” Ayahnya kembali membentak gadis itu. Tanganya diacungkan menunjuk ke arah kamar Lili.
            Air matanya masih mengalir. Bibirnya bergetar seperti mengucapkan sesuatu namun tidak terdengar sama sekali. Bahkan, dia pun tidak yakin bahwa dia telah mengucapkan kata-kata. Dengan tangis yang masih sesenggukan Lili berlari menuju kamarnya. Tanganya memeluk biola kesayanganya itu. Memeluk rasa sesak dan kepedihan yang kini menyelimuti hatinya.
            Bayangan lili menghilang di balik pintu kamar, meninggalkan sosok laki-laki di ruang tamu yang baru saja membentaknya hingga menangis sesenggukan. Namun bagi sang ayah itulah yang terbaik. Dia tidak mau mimpi buruknya terulang, cita-citanya untuk menjadi dokter harus diwujudkan oleh putri semata wayangnya itu.
            ***
            “Non Lili udah pulang?” Entah sejak kapan perempuan berusia lima puluh tahunan sudah berada di dekat Lili. Sedangkan Lili masih terdiam memandangi biola yang tersimpan di balik lemari kaca.
            Lili masih diam tak bergerak. Matanya memandang begitu dalam pada biolanya itu. Angan-anganya kini melayang ke masa lalu. Karena lamunanya itu, dia tidak sadar sedang diperhatikan oleh perempuan yang teryata adalah Bi Inah, pembantu di rumahnya.
            “Non” panggil Bi Inah kedua kalinya, menyentuh lengan Lili yang masih meraba kaca lemari itu.
            Lili sontak kaget tersadar dari lamunanya. Sekejap pandanganya terlalihkan pada sosok Bi Inah yang berada di sampingnya. Oh Bi Inah, gumam Lili. Rasa terkejutnya sedikit reda setelah tahu sosok yang ada di sampingnya itu. Disunggingkan seulas senyuman menutupi rasa terkejutnya yang belum mereda.
            “Eh bibi, ngagetin aja” sahut Lili kemudian.
            Bi Inah tersenyum memperhatikan Lili yang begitu dalam memandangi biola di dalam lemari itu . “Bibi yang menyimpanya di Lemari. Dan tentunya Ayah non Lili yang meminta bibi untuk menyimpanya. Jadi nggak ada salahnya bibi menyimpanya di lemari ini, sekalian untuk hiasan non” kata Bi Inah menjelaskan dengan logat Tegal yang begitu medok.
            “Terimakasih Bi, biola itu sangat berarti buat Lili. Banyak kenangan dan cerita bersamanya” senyumnya kembali merekah. “Oh iya bi, ayah sama bunda dimana ?” tanya Lili kemudian.
            “Tuan sama nyonya sedang pergi ke acara sahabatnya. Mungkin sebentar lagi pulang. Non Lili istirahat dulu aja, pasti capek abis perjalanan jauh. Bibi udah nyiapin kamarnya buat Non”
            “Baiklah bi kalau begitu, Lili mau istirahat dulu. Kalo Ayah sama Bunda udah pulang kasih tahu Lili ya” pesan Lili pada Bi Inah.
            “Baik Non” Bi Inah tersenyum mengiyakan. Sekejap kemudian Lili melangkah meninggalkan Bi Inah di ruang tamu. Bayanganya kini segera menghilang di balik pintu kamarnya.
            ***
            “Lili udah pulang Bi?” tanya seorang laki-laki yang baru saja memasuki rumah mewah itu. Dia adalah ayah Lili.
            “Sudah tuan, non Lili sedang istirahat di kamarnya. Biar saya bangunin dulu …” belum sempat Bi Inah menyelesaikan kalimatnya…
            “Tidak usah Bi, biarin dia istirahat. Nanti saya yang bangunin Lili” kata sang majikan. Sedangkan Bi Inah menurut saja hingga kemudian meminta izin untuk melanjutkan pekerjaanya di dapur.
            ***
            Di kamar Lili.
            Gadis itu tergeletak di atas tempat tidur. Posisinya meringkuk dengan handpone masih digenggamnya. Kepalanya pun tidak beralaskan bantal, jelas dia kelelahan sampai ketiduran seperti itu. Sepatu dan kaos kakinya masih melekat erat di kakinya. Begitupun dengan baju dan celananya, masih sama seperti yang digunakan saat di ruang tamu tadi. Begitu tenang, tubuhnya tak bergerak sama sekali. Lili terlalu lelah hingga tertidur pulas seperti itu.
            Klik. Terdengar suara pintu kamar terbuka dari luar. Kamar Lili memang sengaja tidak dikunci. Suara itu sama sekali tidak mengusik tidur gadis itu. Sepasang suami istri muncul dari balik pintu memasuki kamar Lili. Ayah dan Bunda. Perlahan mereka memperhatikan putrinya yang sedang tertidur di atas ranjang. Sesaat kemudian mereka saling berpandangan. Seperti mengisyaratkan keduanya pun saling tersenyum. Akhirnya sepasang suami istri tersebut berjalan mendekati ranjang tempat diamana Lili sedang tertidur pulas. Mereka duduk di pinggir ranjang, tepat di belakang Lili yang meringkuk memunggungi mereka.
            Hening. Ayah dan bunda tak saling bicara. Mata mereka tertuju pada satu arah, pada anak mereka yang sekarang sedang tertidur pulas. Seakan segan membangunkan anaknya yang sedang dalam kelelahan itu. Perlahan bunda mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang, membelai rambutnya dengan lembut. Tersungging senyuman dari bibirnya itu. matanya berbinar memandang putri yang sudah cukup lama tak dilihatnya.
            Bunda, batin Lili. Dia merasakan ada yang sedang membelai dan mengusap kepalanya. Meskipun masih dengan mata terpejam dia cukup mengenali sosok yang ada di sampingnya itu. Bunda. Perlahan matanya dibuka dengan malas. Tubuh lelahnya itu digerakan berbalik ke arah sang bunda yang sedang memandanginya. Masih dalam posisi terbaring, bibirnya tersenyum saat dilihatnya sang bunda juga sedang tersenyum memandanginya. “Bunda” Lili segera bergegas bangkit dan memeluk sang bunda. Begitu juga bunda balas memeluk anaknya dengan hangat, tanganya perlahan mengusap punggung putrinya itu.
            “Lili kangen sama Bunda” suaranya terdengar lirih dan manja. Keduanya masih saling berpelukan. Sedangkan sang bunda hanya tersenyum dan masih mengusap punggung putrinya yang merengek seperti anak kecil. Lili menyandarkan dagunya pada bahu sang bunda. Perlahan mengerjapkan mata dan menangkap sosok yang berdiri di depan matanya, di belakang sang bunda.
            “Ayah” mata Lili masih berbinar mamandang sang ayah. Sekejap Lili melepas pelukan pada bundanya. Tubuhnya masih lemas karena belum sepenuhnya sadar setelah bangun tidur. Namun kini dia telah beranjak dari tempat tidur melangkah menghampiri ayahnya kemudian memeluk erat tubuh ayahnya itu.
            “Ayah, maafin Lili” masih dalam pelukan sang ayah yang juga memeluknya penuh kasih. Lili teringat peristiwa saat ia sering sembunyi-sembunyi berlatih biola dan mengikuti berbagai perlombaan. Karena kegiatanya itu sama sekali tidak disetujui ayahnya, dan lili pun sering pulang terlambat hingga membuat ayahnya marah. Lili kini merasa berdosa pada ayahnya. Meskipun kini dia sedang menempuh studi kedokteran, menjadi pemain biola yang professional juga masih diimpikanya.
            Ayahnya menghembuskan nafas perlahan melapaskan segala beban yang penuh sesak di dadanya. Dia juga mulai menyadari kesalahanya di masa lalu yang terlalu memaksakan kehendaknya pada Lili untuk melanjutkan impianya. Meskipun demikian, dia tidak sepenuhnya membenci hobi anaknya sebagai pemain biola. Hal itu terbukti dengan ayahnya yang masih menyimpan biola kesayangan Lili di dalam lemari. Bahkan letaknya berada di ruang utama.
            “Ayah juga minta maaf. Ayah terlalu memaksakan kehendak ayah padamu. Ayah masih menyimpan biolamu di lemari. Bi Inah yang selalu merawat dan membersihkanya” kini kedua mata anak dan ayah itu saling berpandangan. Tersungging senyuman dari sang ayah pada putrinya itu. Suasana segera mencair, ayah pun melepaskan pelukanya. Dengan  memegang pundak anaknya, kepalanya dicondangkan kedepan pandangan putriya itu.
            “Masih mau memainkan biola?” tanya sang ayah tiba-tiba
            Lili tidak langsung menjawab, kemudian mengangguk mengiyakan.
            “Baiklah, ayah dan Bunda ingin mendengarkan permainan biolamu” lanjut sang ayah dengan pandangan tegas pada putrinya itu.

            Lili tidak dapat berkata-kata mendengar perkataan ayahnya itu. Seperti mimpi. Ayah yang dulu sangat melarangnya bermain biola kini ingin mendengar permainanya. Ini akan menjadi moment pertama kalinya dia menunjukkan kebolehanya di depan orang tuanya. Sbelumnya Lili selalu sembunyi-sembunyi jika ingin bermain biola. Dia salah mengira, ternyata ayah tidak sepenuhnya membenci hobinya. Ayah hanya menginginkan Lili mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter. Ayah juga menyimpan biolanya di balik kaca lemari dengan rapid an terawat. Lili menyadari apa yang dilakukan ayahnya adalah untuk kebaikanya juga, untuk masa depanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kemarin' Rindu

*Karya : HepsRmd  * ===================================== ini menyenangkan, kadang kita lupa dan keasikkan, momen tak seberapa yang terlonta...