Panji melangkah perlahan memasuki
kerumunan itu. Taman Lavia, tempat itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari
seluruh penjuru kota di negeri ini. Pesta malam purnama sedang belangsung. Sesuai
dengan tradisi yang berlaku di negeri ini, semua yang datang di pesta purnama
tidak boleh menampakan identitasnya. Sebagai salah satu aturanya yaitu mereka
harus menggunakan topeng. Topeng dengan bulu warna-warni menghiasi di bagian
atas mata topeng. Begitu juga dengan Panji, dia tidak lupa mengenakan topeng
hitam dengan bulu warna biru menghiasi bagian atas matanya. Tuxedo hitam yang
ia kenakan membuat penampilanya semakin elegan. Namun tidak dengan ekspresi
wajahnya yang kini nampak gelisah. Ada yang sedang dicari.
Shit,
ramai sekali. Kalau begini situasinya, bagaimana aku bisa menemukanya,
rutuk Panji dalam hati. Panji terus berjalan menembus kerumunan orang yang
begitu riuh. Meski gelisah, matanya tetap fokus menyapu seluruh wajah yang
dilihatnya, berharap segera menemukan apa yang dicarinya sejak tadi. Tiba-tiba
langkahnya semakin pelan bahkan seketika berhenti. Kini panji tepat berada di
tengah kerumunan di Taman Lavia saat matanya menangkap sesosok yang membuatnya
terpaku. Matanya tak henti menatap, tegak lurus tepat tertuju pada air mancur
di tengah Taman Lavia.
Itu
dia, batin Panji sedikit lega. Tersungging senyuman miring dari bibirnya.
Kini dia kembali melangkah mendekati air mancur. Namun ternyata bukan air
mancur yang ditujunya, melainkan sosok wanita yang begitu anggun berdiri di
dekat air mancur.
“Lavia” ucapanya begitu lirh
memanggil wanita yang kini menoleh padanya.
Seketika hening, wanita yang
dipanggil Lavia itu tak menjawab. Topeng merah hati dengan bulu-bulu putih
mencoba menutupi siapa sosok di balik topeng itu. Namun tidak bagi Panji yang
begitu mengenali sosok Lavia bahkan di balik topeng sekalipun. Matanya kini
menatap begitu tegas hingga mata dua sejoli itu kini bertemu dalam jarak yang
hanya sepersekian centimeter saja. Senyuman pun tak dapat di bendung lagi, mengalir
diantara keduanya. Entah seiapa yang memulai, kini dua sejoli itu telah menyatu
dalam pelukan kerinduan yang begitu hangat. Sangat erat mereka berpelukan,
mengabaikan pandangan dari keramaian orang yang ada di taman itu.
Teng ... teng ... teng .... suara
lonceng menara yang ada di taman telah berbunyi. Ini adalah waktu yang
dinanti-nanti oleh semua orang yang ada di Taman Lavia. Ya, lonceng itu selalu
berbunyi secara otomatis saat malam purnama. Entah apa yang membuat lonceng itu
berbunyi secara otomatis, yang pasti, bunyi lonceng itu pertanda pesta akan
segera usai dan akan ditutup dengan pesta dansa.
Seketika semua orang yang ada di
Taman Lavia sudah berpasang-pasangan dan mulai berdansa. Begitu juga dengan
Panji dan Lavia yang kini berdiri berhadapan. Perlahan tangan Lavia melingkar
di atas bahu Panji, dengan otomatis tangan Panji memeluk pinggang Lavia. Dalam
hitungan detik dua sejoli ini juga mulai berdansa mengikuti alunan musik. Kedua
pasang mata itu saling bertatapan mesra di balik topeng yang berbulu yang
dikenakan keduanya. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Malam ini menjadi
milik mereka berdua meskipun pada kenyataanya ribuan orang asing memenuhi
pelataran Taman Lavia.
Teng... teng... teng... suara
lonceng kembali berbunyi ketika jarum jam pada menara menunjukan tepat pukul
dua belas malam. Seketika itu alunan musik terhenti, begitu juga dengan pesta
dansa yang dari tadi berlangsung.
Nampaknya suara lonceng itu juga
menghentikan dan juga melepaskan pelukan Panji dan Lavia. Sial, kenapa begitu cepat! Panji kembali mengutuk dalam hati.
Matanya kini menatap tajam pada jam tangan yang ia kenakan.
Seulas senyuman yang dipaksakan
tersungging dari bibir Panji. “Aku harus pergi Lavia, kita akan bertemu lagi
saat purnama tiba” Panji kembali tersenyum meyakinkan pada Lavia bahwa dirinya
akan kembali menemuinya saat purnama tiba. Saat pesta dansa bulan purnama di
Taman Lavia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar