Gadis itu duduk di bangku taman.
Bangku yang terbuat dari besi itu sudah tampak lusuh karena warnanya yang mulai
pudar. Kakinya disilangkan, sedangkan kedua tanganya memegang sesuatu yang
menjadi favorit dan menjadi hobinya. Membaca novel. Tanganya memegang novel
best seller yang baru saja dibelinya. Lembar demi lembar setiap paragraf tak
luput dari pandangan matanya. Telunjuknya bergerak mengikuti kalimat yang
dibacanya. Rambutnya
dibiarkan terurai melambai dibelai angin. Sesekali tanganya membenarkan posisi
kacamata yang melorot bertengger di hidungnya.
Wajahnya nampak sangat serius. Ya, memang
seperti itulah dia kalau sedang asik membaca novel. Tak ada yang bisa
mengganggunya. Hanya sesekali senyumnya tersungging menyiratkan tentang apa
yang sedang dibaca.
Aku mengamatinya dari bangku yang
kebetulan berada berseberangan dengan bangku tempat ia duduk. Tanganku masih
asik dengan buku gambar dan pensil. Goresan-goresan pensilku telah berhasil
memindahkan sosoknya ke atas kertas buku gambarku. Tak mau kalah, aku pun
tersenyum simpul pada sketsa di buku gambarku. Aku tidak terlalu hobi membaca
seperti Ammi. Ya, gadis yang tadi kuceritakan bernama Ammi. Aku lebih suka
mendengarkan cerita tentang apa yang dibacanya. Sebagai imbalanya, aku
memberikan hasil visualku melalui goresan pensil di atas buku gambarku. Dan
itulah yang membuat kami selalu bisa bertemu,
meskipun dengan hobi yang berbeda.
“Gambar yang bagus” entah sejak
kapan Ammi sudah duduk di sampingku. Mengamati sketsa dirinya yang hampir
kuselesaikan. Aku
yang terlalu asik seringkali tidak menyadari kehadiranya. Ya, melukisnya,
membuat sketsa di atas buku gambarku, itu adalah sesuatu yang membuatku semakin
hidup. Ammi selalu hidup dalam setiap karyaku.
Sejenak ku perhatikan ekspresi muka
gadis di sampingku ini. Dia tersenyum, manis sekali. “Sudah selesai” aku
tersenyum sendiri, ah bukan–lebih tepatnya aku tersenyum pada buku gambarku dan
Ammi di sampingku. “Jadi bagaimana cerita dari novel barumu itu Am?” tanyaku
memulai obrolan.
Ammi bercerita panjang lebar tentang
novel yang baru saja dibacanya. Meskipun
terkadang itu bukanlah sesuatu hal yang menarik perhatianku, karena aku lebih
tertarik melihatnya, saat dia sedang bercerita. Ammi dengan buku-buku, novel
dan hobinya membaca. Aku dengan buku gambar, pensil dan sketsa Ammi. Kedua hal
itu saling bertukar ketika kami akan berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi.
Dari buku, novel dan juga sketsa. Seringkali kutuliskan pesan rahasia yang
kuselipkan di bukunya, tentunya tanpa sepengetahuanya.
“Ammi, buka dan baca halaman 60 dan ku
harap kamu menyukainya”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar