Desember. Hujan semakin
sering turun. Desember yang lalu aku mengatur jadwalku untuk menemuimu. Kita
masih sama - sama sibuk dengan aktifitas kampus. Sekarang, Desember lagi. Aku
tak lagi mengatur jadwal menemuimu, tetapi aku mencoba menata hati agar lebih
rapi. Menata diri agar lebih pantas.
Januari
yang lalu aku marah padamu, aku mendiamkanmu sebagai isyarat atas kesibukkanmu.
Kekanak - kanakanku yang menginginkan keberadaanmu. Kekanak - kanakanku memaksa
agar kau tak hilang dariku.
Februari
yang lalu, kita bertemu. Menikmati hujan bersama
di kota hujan. Melewati gang
sempit yang dipenuhi air dari langit. Berlindung di bawah payung kecil warna
merah. Meniti jembatan penyeberangan orang. Puas keliling Jakarta dengan
Commuter Line. Meniti jembatan merah kebun raya. Vihara menjelang imlek. Kue
apek khas setempat. Bangku taman kebun raya. Meniti jalan setapak kebun raya.
Genggaman tangan itu, sepasang sepatu lusuh. Terminal Kota Bogor. Pelukan dan
senyum perpisahan ditengah rintik hujan yang terus mengguyur.
Apa
kabar gadis hujan? Kamu masih menetap di sana, bukan lagi mengejar gelar tapi
meniti karir atas studimu selama tiga tahun. Mungkin kamu sekarang semakin
dewasa dengan lingkungan barumu. Lingkungan dimana sekarang kamu memulai mengejar
impianmu. Apa pun itu, Aku tahu kamu adalah sosok yang hebat. Sosok yang pernah
mengajariku untuk lebih dewasa. Sosok yang membuatku iri dengan
kesederhanaanmu. Sosok yang perhatian kepada Aku yang ceroboh. Sosok yang
selalu mengingatkan saat aku lupa. Sosok yang cerewet saat aku diam.
Ceritamu adalah senandung
untukku. Senyumanmu adalah keindahan dari semua ciptaan Tuhan. Dan diammu
adalah peringatan untukku.
Kita
pernah melangkah bersama melewati jalan setapak, melewati hujan, menerobos
ramainya lalu lintas, melewati waktu, melewati lembaran cerita kita.
Sudah lebih dari setengah
tahun, semenjak tanpamu. Aku tak terlalu tahu kabar tentangmu. Hanya beberapa
kali lewat media sosial. Saat aku ulang tahun, dan saat akhir November
mendewasakanmu.
Desember
ini, kau bilang akan pulang walau hanya sehari. Aku tak berharap banyak.
Apalagi untuk bertemu. Terakhir kali kita jalan bersama saat hari raya. Dan
kepulanganmu Desember ini cukup membuatku senang. Ada semacam energi yang
mengalir. Deras mengisi nadi - nadiku. Menyegarkan seperti oksigen pagi hari. .
Tak berharap banyak. Aku
hanya ingin kamu selamat. Jika sempat aku akan menemuimu. Raingirl.
Hanya untuk melihatmu,
melihat keadaanmu. Berkata "hai", "apakabar" dan
"hati-hati". Jika bisa lebih aku ingin bilang "rindu", dan
jika diizinkan aku ingin bilang "sayang". Dan sebatas cukup aku hanya
ingin "tersenyum". Raingirl, gadis Kota Hujan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar