Tali
prusik. Tali yang menjadi ciri khas dari para petualang. Ya. Kebanyakan anak
gunung memakai tali ini. Tali dengan corak warna menarik dan bisa dikreasikan
semenarik mungkin.
Malam
itu sekitar jam delapan malam aku bergegas pergi ke sebuah toko peralatan outdoor.
Karena memang di sanalah biasanya berbagai macam tali prusik tersedia.
Terkadang hanya iseng membelinya untuk menambah koleksiku, untuk gelang, kalung
atau aksesoris lainya.
Langkahku
terhenti didepan sebuah toko outdoor.
Tanpa berfikir panjang aku masuk dan
melihat koleksi tali yang dipajang di dalam lemari etalase. Mataku tertuju pada
tali berdiameter tiga milimeter dengan corak ala rasta, merah, kuning, hijau
dan warna hitam sebagai warna dasarnya.
Aku
masih terpaku melihat detailnya di saat seorang pelayan toko menghampiriku.
"Ada
yang bisa saya bantu mas?"
"Ah
iya mba, sebentar saya ingin melihat - lihat dulu." Jawabku tanpa melihat
pelayan toko yang ku tahu dia adalah seorang wanita.
Ku
alihkan pandanganku pada meja kasir, mencari sosok yang sepersekian menit yang
lalu menegurku. Mataku menyapu seluruh ruangan toko yang kira - kira luasnya
lima puluh meter persegi ini. Pandanganku terpaku pada sosok wanita bertubuh
tinggi semampai dengan rambut diurai sebahu. Kemeja flanel yang sengaja tak
dikancingkan, menunjukan kaos hitam ala petualang dipakainya.
Ku
lambaikan tangan kananku pada wanita itu sebagai isyarat aku memanggilnya.
Dengan sigap dia datang menghampiriku.
"Ada
yang bisa saya bantu mas?"
"Tolong
mba, saya mau lihat tali yang berwarna ala rasta". Tanganku menunjuk pada
tali yang ku maksud.
"Baik
tunggu sebentar mas".
Dengan
sigap dan hati - hati dia mengambil gulungan tali prusik warna rasta dan diberikanya
padaku.
"Ini
mas, silahkan dilihat dulu"
Aku
melihat seluruh sisi gulungan tali prusik ini. Kusentuh setiap
sisinya,memeriksa detail bahan dari tali ini.
Ketika
aku ingin menanyakan harga tali ini, bibirku terhenti pada senyumanya. Senyuman
yang baru saja ku lihat namun begitu memikat. Garis senyum yang khas dari wajah
dengan lesung pipi menghiasi wajah cantiknya bagai sunrise jingga diantara sela
- sela pepohonan. Renyah bagai gemercik ombak di laut yang menghempas pasir
pantai. Menghanyutkan.
"Mba,
saya minta lima meter bisa?"
"Iya
bisa mas, mari ikut saya ke meja kasir"
Dia
menundukan pandanganya pada meteran sembari mengukur tali yang ku pesan.
Rambutnya terjatuh diujung dagu menutupi wajahnya. Menutupi sosok cantiknya
menjadi sosok misterius yang tetap anggun. Tanpa kata dia memotong tali yang
sudah diukur baru saja.
"Mas
anak gunung?" pertanyaanya tiba - tiba memecah perhatianku dari sosoknya.
"Saya?
Ah bukan,hanya sesekali saja saat penat dengan keramaian kota. Memangnya kenapa
?"
"Tidak,
saya hanya ingin tahu, karena biasanya yang sering membeli tali seperti ini
kebanyakan anak gunung yang suka camping
gitu."
"Sebenarnya
anak gunung atau bukan, tidak bisa dilihat hanya karena tali dan gelang dari
prusik ini mba, tapi bisa dari banyak sisi. Karena terkadang penampilan bisa
saja menipu. Iya kan ?"
Wanita yang tepat berada di pertemuan mata ini tersenyum. Aku tak
tahu senyumnya tanda mengerti atau kah tanda yang lain.
"Bisa membuat gelang?"
"Maksudnya?"
"Iya, bisakah kamu membuat gelang dari tali prusik itu?"
"Bisa, hanya sebataa bisa. Memangnya kenapa?"
"Maukah membuatkan satu untukku?"
"Untukmu?"
"Iya, untukku. Anggaplah ini sebagai tanda awal perkenalan
kita. Namaku Riyani". Senyumnya mengantarkan tangan putih itu berjabat
tangan denganku.
"Rio, atau biasa dipanggil Yoyo'." Kubalas senyum itu
sebagai tanda kami telah berteman.
"Jadi maukah kamu membuatkan gelang untukku?"
Tiba - tiba bahasanya berubah seakan kami sudah saling mengenal
sejak lama. Riyani. Sosok yang mudah akrab. Supel. Seperti penampilanya yang
fleksibel.
"Baiklah, tapi kalau jelek jangan protes ya hee".
Dia hanya tersenyum tanpa kata. Sedangkan aku sigap membuatkan
gelang prusik untuknya. Dengan simpul fisherman andalanku tak lama kemudian
satu gelang prusik dengan warna pink, serasi dengan sosok Riyani.
"Sudah?"
"Iya sudah, ini?" Kuulurkan tanganku memberikan hasil
tali-temali yang selama beberapa menit yang lalu.
"Terima kasih. Bisa tolong pakaikan di tanganku?"
Aku cukup terkejut mendengar permintaanya. Riyani yang baru ku
kenal ini memintaku membuatkan gelang dan memakaikan di tangannya. Kukendorkan
tali gelang ini du ku pakaikan di lengan kirinya. Tangan yang begitu lembut.
Kulit bersih layaknya porselin. Jari - jari panjang yang jenjang dan lentik.
Dia begitu tenang, meskipun aku orang yang baru dikenal memegang
tanganya. Mudah akrab. Seperti pendaki gunung. Bertegur sapa meski tak tahu
nama. Bernyanyi dan tertawa meski dengan cara yang sederhana.
"Nah sudah selesai"
"Terimakasih Yoyo'." Masih senyuman itu mengakhiri kata
- katanya yang lembut.
Aku hanya tersenyum melihatnya yang cukup bahagia. Cara bahagia
yang sederhana dari sosok yang istimewa. Riyani nama yang manis seperti
senyumanya.
Satu buah gelang prusik melingkar di tanganmu. Entah apa artinya
gelang itu bagimu aku tak peduli. Tapi senyum di setiap aku datang ke toko
inilah yang akan selalu aku tunggu. Senyum yang akan memaksaku untuk
merindukanmu. Senyum yang memaksaku untuk datang ke toko ini. Riyani dan Gelang
prusik yang serasi.
***Imajinasi dari gelang tali prusik***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar